Sering Terganggu Suara-suara Tertentu? Mungkin Kamu Terindikasi Misophonia

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Pernah merasa sangat terganggu atau emosi tiba-tiba naik gara-gara suara orang mengunyah, bunyi klik pulpen, atau detak jam? Bisa jadi itu bukan sekadar kesal biasa. Kondisi tersebut dikenal sebagai misophonia, sebuah sindrom neurofisiologis yang membuat seseorang bereaksi ekstrem terhadap suara-suara tertentu.

Berdasarkan informasi dari laman resmi The International Misophonia Foundation, misophonia terjadi ketika suara yang berulang dan memiliki pola tertentu memicu respons emosional dan fisiologis yang sangat intens. Pada penderita misophonia, suara-suara tersebut bisa memunculkan rasa iritasi hingga kecemasan berat.

Dalam kondisi ini, otak salah menafsirkan suara tertentu sebagai sesuatu yang berbahaya atau mengancam. Akibatnya, tubuh langsung mengaktifkan respons bertahan hidup, seperti saat menghadapi bahaya. Reaksi ini dikenal sebagai fight or flight response.

Respons tersebut bisa memicu berbagai reaksi fisik, mulai dari keringat berlebih, detak jantung meningkat, hingga perubahan hormonal. Artinya, reaksi yang muncul bukan dibuat-buat, tapi benar-benar terjadi secara biologis.

Mengutip laman resmi Cleveland Clinic, misophonia dapat memengaruhi setiap orang secara berbeda. Ada yang hanya sensitif terhadap satu jenis suara, tapi ada juga yang punya banyak pemicu sekaligus. Tingkat keparahannya pun bervariasi, dari sekadar tidak nyaman hingga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Meski pemicunya bisa berbeda-beda, beberapa suara yang paling sering memicu misophonia antara lain suara orang mengunyah makanan, detak jam, napas berat, bunyi ketukan, klik pena, suara air menetes, hingga bunyi bibir mengecap.

Pada pengidap misophonia, suara-suara tersebut bisa memicu reaksi emosional seperti marah, kesal berlebihan, bahkan murka. Selain itu, muncul juga respons fisik seperti jantung berdebar lebih cepat, hingga reaksi spontan seperti melotot atau menjauh dari sumber suara.

Sebagaimana dikutip dari Hindustan Times pada Selasa (13/1), dokter spesialis anestesiologi dan pengobatan nyeri Kunal Sood menjelaskan bahwa penanganan misophonia bisa dilakukan melalui terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT) atau terapi suara. Pendekatan ini bertujuan membantu otak memproses suara pemicu dengan cara yang lebih terkendali.

Jika kamu merasa gangguan terhadap suara tertentu sudah mulai memengaruhi emosi, hubungan sosial, atau aktivitas harian, mencari bantuan profesional bisa jadi langkah awal untuk memahami dan mengelola kondisi ini dengan lebih baik.

Sumber: hindustan times, cleaveland cl

Bagikan

Mungkin Kamu Suka