Jakarta (KABARIN) - Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog membagikan upaya-upaya yang dapat diberikan sebagai dukungan pada pihak yang sedang berduka.
"Ketika seseorang ditinggal meninggal secara mendadak oleh orang terdekatnya, dukungan dari lingkungan memang menjadi sangat penting. Dukungan yang paling utama adalah hadir dengan cara yang tepat," kata Ratriana saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Ratriana mengatakan penting bagi teman maupun keluarga peka terhadap perasaan orang yang berduka. Jika orang tersebut membutuhkan ruang untuk menyendiri, hormati keputusan tersebut sambil memantaunya secara berkala.
Pemeriksaan tidak melulu harus intensif dan memaksakan balasan. Sampaikan bahwa teman dan keluarga selalu ada, sehingga pihak yang bersangkutan tidak merasa sendirian.
Dengarkan tanpa menghakimi apabila yang bersangkutan memilih bercerita.
Validasi emosinya dengan menghindari kalimat seperti “ada makna dibalik semuanya”, “sudah waktunya”, “Tuhan tidak akan memberikan kita cobaan di luar kemampuan kita” karena rasa duka bisa muncul dalam bentuk sedih, marah, bingung, mati rasa, atau campur aduk.
Menurut psikolog yang kini berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi itu, validasi emosi akan membantu orang yang berduka merasa dimengerti dan tidak terburu-buru untuk pulih.
Upaya berikutnya yang bisa diberikan yakni menawarkan bantuan secara konkret dan praktis. Dia menilai saat berduka seseorang sering kali kesulitan mengurus hal-hal dasar. Menawarkan bantuan seperti menyiapkan makanan, membantu membersihkan rumah, menemani mengurus administrasi, atau sekadar menemani duduk bisa sangat membantu
"Terakhir, hormati proses berduka mereka. Tidak ada timeline yang sama bagi setiap orang. Ada yang cepat tampak pulih, ada yang membutuhkan waktu lama. Tugas kita bukan mempercepat proses itu, tetapi menemani mereka melaluinya dengan penuh empati dan kesabaran," ujar Ratriana.
Dalam kesempatan itu Ratriana juga menilai karangan bunga dapat jadi opsi selanjutnya untuk menunjukkan bentuk kehadiran ketika kita tidak bisa hadir langsung secara fisik dan mengungkapkan duka.
"Tapi mungkin lebih ke yang bentuknya acquaintances (kenalan) ya bukan yang keluarga atau kerabat dekat. Mungkin sebagai gestur dan simbol empati bisa," tambahnya.
Namun secara psikologis karangan bunga tetap tidak bisa menggantikan dukungan emosional secara langsung. terutama buat orang terdekat, karena kehadiran atau mungkin pesan personal jauh lebih dibutuhkan.
Sumber: ANTARA