Jakarta (KABARIN) - Prof. Tjandra Yoga Aditama, ahli kesehatan dan mantan Direktur Penyakit Menular WHO untuk Asia Tenggara, mengingatkan bahaya menghirup gas N2O atau nitrous oxide, terutama kalau disalahgunakan.
“Pada mereka yang berkali-kali menghisap N2O maka dapat menimbulkan gangguan neurologik dan bahkan gangguan otak,” kata Prof. Tjandra saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ini menjelaskan berdasarkan FDA, menghirup N2O bisa memicu sakit kepala, kesulitan bernapas, gangguan darah, serta masalah buang air besar dan kecil.
Selain itu, N2O juga bisa bikin tubuh lemah, sulit berjalan, detak jantung tidak teratur, defisiensi vitamin B12, masalah kejiwaan seperti depresi, paranoid, halusinasi, hingga gangguan kesadaran. Dalam kondisi parah, penggunaan berulang bisa berakibat kematian.
“Data lain juga menunjukkan penggunaan N2O berkepanjangan dapat menurunkan kesuburan atau fertilitas dan pada keadaan tertentu menimbulkan keguguran,” tuturnya.
Prof. Tjandra menambahkan gejala akibat N2O bisa meliputi sesak napas, pusing, kebingungan, sakit kepala, frostbite ringan di bawah kulit, hingga gangguan reproduksi. Organ tubuh yang paling terdampak adalah sistem pernapasan, saraf, dan reproduksi.
“Dengan berbagai bahaya yang ada maka jangan menggunakan N2O untuk alasan sensasi sesaat,” tegasnya.
Sebelumnya, BNN RI juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mencoba “gas tertawa” atau Whip Pink karena mengandung Dinitrogen Oksida yang berwujud gas tak berwarna dan terasa sedikit manis. Efeknya memang bisa membuat senang atau tertawa, tapi berbahaya bila disalahgunakan.
"N2O bukan untuk konsumsi rekreasi. Efek euforianya singkat, tetapi risikonya fatal dan permanen," ucap Kepala BNN RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (27/1).
Sumber: ANTARA