Jakarta (KABARIN) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memperkirakan tren konsumsi menjelang dan saat Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri 2026 relatif terjaga meskipun terdapat sejumlah dinamika perekonomian dalam beberapa waktu terakhir.
Faisal saat dihubungi di Jakarta, Jumat, mengatakan tren konsumsi yang terjaga sekalipun ada dinamika seperti potensi dan dampak bencana di dalam negeri itu tercermin dari konsumsi periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026) yang cenderung mengalami peningkatan.
“Kondisi daya beli dan konsumsi menjelang Ramadhan-Lebaran, kalau saya melihat bagaimana perkembangan konsumsi rumah tangga dalam 5-6 bulan terakhir menjelang Nataru kemarin sebetulnya memang ada peningkatan, ada dorongan demand yang cukup berperan juga di situ,” kata Faisal.
Selain itu, Indeks Pertumbuhan Riil (IPR) dari Bank Indonesia (BI) bulan November 2025 juga sebesar 222,9 atau naik 6,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi ketimbang pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 4,3 persen yoy.
“Kita bisa lihat juga, selain IPR itu meningkat selama lima bulan berturut-turut, juga berpengaruh kepada sektor produksi di mana Purchasing Manager Index manufaktur mengalami ekspansi empat bulan berturut-turut sampai dengan Nataru,” kata Faisal.
Selain itu, ia mengatakan tren positif itu akan terus berlanjut karena setelah Nataru langsung disambut juga dengan perayaan Imlek, diikuti bulan Ramadan dan Lebaran.
“Dan ditambah lagi ada additional income dari masyarakat pada umumnya dengan dibagikannya THR (tunjangan hari raya) menjelang Lebaran. Jadi dari sisi konsumsinya saya pikir setelah Nataru sampai dengan Lebaran itu masih akan terus bagus,” ujar dia.
Namun, Faisal juga mengingatkan bahwa tantangan sebenarnya akan ada di periode setelah Hari Raya Idul Fitri, apakah konsumsi masyarakat masih akan terus bertumbuh atau malah sebaliknya.
“Nanti kita lihat karena kami juga sedang melihat bagaimana kondisi pasca Lebaran. Karena kalau kondisi pasca Lebaran jatuh lagi dan cukup lama turunnya, ini berarti (perekonomian) dan daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih,” ujar dia.
Hal itu, lanjut Faisal, dapat dilihat dari tingkat upah rata-rata yang masih belum menunjukkan kenaikan signifikan.
Meski demikian, ia mengatakan cukup optimistis mengingat pemerintah telah memberikan sejumlah stimulus ekonomi demi menunjang konsumsi masyarakat pada paruh terakhir tahun lalu.
“Itu juga yang saya harapkan bahwa bauran kebijakan moneter dan fiskal itu sudah sedikit demi sedikit berdampak terhadap daya beli,” kata Faisal.
Sumber: ANTARA