Jakarta (KABARIN) - Kehidupan sering kali membawa seseorang pada satu titik, di mana ia tidak lagi berada di masa lalu, namun belum sepenuhnya menapak di masa depan.
Film "Surat untuk Masa Mudaku" merupakan sebuah fragmen perjalanan tentang manusia-manusia yang terjebak dalam ruang ambang (liminal space) tersebut.
Fase ambang (limbo) dalam film dibuka dengan cerita dari sosok karakter utama bernama Kefas yang karakter dewasanya diperankan oleh aktor Fendy Chow.
Di tengah acara ulang tahun putrinya, Abigail (Sadiya Aisye) yang seharusnya penuh suka cita, Kefas justru mengalami gangguan kecemasan yang misterius.
Ia kehilangan kendali atas emosinya di hadapan para tamu undangan yang hadir. Sang istri, Rania (Agla Artalidia), hanya bisa memandang dengan rasa jengah yang tertahan.
Hingga akhirnya, Rania tidak tahan dan hanya bisa membiarkan suaminya seorang diri di rumah, jauh dari ia dan anaknya.
Kefas berdiri di antara dua kutub kehidupan yang saling tarik-menarik. Satu sisi adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga di masa sekarang. Sisi lainnya adalah fragmen memori masa remaja, saat ia hidup di panti asuhan, dengan menjadi sosok kakak pelindung bagi adik-adiknya.
Ketidakmampuan Kefas untuk berdamai dengan posisi transisi itu membuatnya merasa gelisah dalam menjalani kenyataan hidup sehari-hari.
Ia merasa sangat tertekan oleh beban perasaan yang mendadak muncul kembali ke permukaan secara tiba-tiba, tanpa peringatan.
Perjalanan batin itu kemudian membawa Kefas untuk kembali mengunjungi Panti Asuhan Pelita Kasih yang ditinggalinya sewaktu remaja.
Kedatangannya dipicu oleh panggilan telepon yang bersifat sangat mendadak. Hanya saja, jika harus memberikan catatan kritis, eksekusi pada bagian perpindahan cerita ini terasa agak lemah.
Pendorong ceritanya hanya mengandalkan sebuah kabar duka yang datang, tanpa ada tanda-tanda atau persiapan narasi yang cukup matang bagi penonton.
Akibatnya, perjalanan Kefas mencari jawaban atas fase limbonya menjadi kurang alami karena ia hanya bereaksi terhadap sebuah berita dari pihak luar, tanpa adanya pergolakan internal yang dibangun sejak awal.
Memori panti asuhan
Begitu menginjakkan kaki di panti asuhan, Kefas berjalan menyusuri lorong-lorong di sana, dengan tatapan yang gamang.
Suasana sunyi di lorong-lorong tua itu, seketika membangkitkan ingatan mendalam tentang masa remajanya yang penuh gejolak.
Sosok Kefas muda diperankan dengan sangat apik oleh Millo Taslim, yang merupakan keponakan dari aktor Joe Taslim.
Kefas muda digambarkan sebagai remaja dengan watak yang keras dan penuh curiga terhadap orang lain.
Watak kerasnya itu rupanya dipicu trauma, setelah kehilangan adiknya di masa lalu.
Sutradara Sim F sangat jeli dalam memilih aktor muda untuk menghidupkan suasana panti.
Selain Millo yang bermain apik sebagai Kefas remaja, ada Sabrina (Aqila Faherby) yang digambarkan lebih dewasa daripada teman-temannya.
Lalu ada Joy (Cleo Haura) dengan penampilan cewek tomboi yang khas, serta Boni (Halim Latuconsina) yang merupakan anak paling kecil di panti.
Boni memiliki perawakan khas Indonesia Timur, dengan rambut ikal yang sering dibantu sisir oleh Kefas agar terlihat lebih rapi setiap hari.
Selain itu, hadir pula tokoh Romi (Jordan Omar) dan Desi (Diandra Salsabila Lubis) yang melengkapi dinamika kehidupan anak-anak di tempat tersebut.
Meskipun Kefas muda memiliki watak yang keras, atmosfer di dalam panti asuhan tersebut tetap terasa cair dan hangat.
Hal itu merupakan buah dari pola asuh yang diterapkan oleh Simon Ferdinan (Agus Wibowo) dan Wahyu (Willem Bevers).
Simon adalah pengasuh panti yang merupakan sahabat karib dari Wahyu (Willem Bevers), pemilik yayasan yang mengelola panti tersebut.
Simon dipekerjakan Wahyu untuk membantunya karena Ia yakin Simon dapat menjadi sosok pengasuh yang bertanggung jawab secara emosional dan moral bagi tumbuh-kembang anak-anak panti asuhan.
Simon pun mahir mengajari Kefas muda bermain gitar sebagai sarana untuk menyalurkan emosi yang selama ini terpendam.
Pola asuh
Nilai utama yang diusung oleh sosok Simon Ferdinan adalah kejujuran yang dipraktikkan melalui perbuatan nyata setiap hari.
Konflik sempat memuncak, saat Kefas muda melihat Simon memindahkan stok beras panti secara diam-diam ke luar bangunan, dengan mobil operasional panti.
Dengan wataknya yang mudah curiga, Kefas menuduh Simon melakukan tindakan korupsi terhadap jatah makan anak-anak panti.
Kebenaran baru terungkap setelah momen sarapan pagi tiba. Kefas menyadari bahwa nasi di piringnya sudah bersih dari bangkai kutu yang biasanya selalu ada.
Ia akhirnya memahami bahwa Simon telah mengganti beras rusak tersebut secara diam-diam, tanpa mengharap nama baik atau pujian.
Fase limbo dalam film ini ternyata tidak hanya milik Kefas. Simon sendiri mengalami fase ambang yang menyentuh, saat ia sendirian.
Ia sering terdiam lama mencium sejenis wewangian sambil memperhatikan foto lama, saat bersama istri dan anaknya.
Kenangan tersebut membuatnya seolah terjebak di antara kehangatan masa lalu dan kesunyian masa sekarang.
Selain Simon, karakter tetangga panti asuhan mereka, Yahya (Landung Simatupang) juga menghadapi kondisi serupa.
Sebagai tukang jahit yang tinggal di sebelah panti, Yahya sering terlihat galak, saat anak-anak menendang bola ke halamannya.
Kemarahan tersebut merupakan proyeksi dari kondisi psikologis masa tuanya yang ia hadapi dalam kesendirian.
Simon pernah menerima teguran emosional yang keras dari Yahya, namun ia memilih untuk memahami kondisi tersebut, tanpa membalas dengan amarah.
Ketulusan itu membuat Yahya sangat menghargai sosok Simon sebagai tetangga.
Ia meyakini keberadaan Simon dapat membuat anak-anak panti tumbuh menjadi manusia yang lebih baik di lingkungan tersebut.
Di sisi lain, fase limbo juga menghinggapi Gabriel (Verdi Solaiman), seorang pemilik rumah duka.
Ia terjebak dalam pertentangan moral yang lucu karena praktik bisnisnya.
Gabriel harus berhadapan dengan situasi profesional unik, yang memaksanya menyeimbangkan prinsip kerja dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Palet warna naratif
Secara visual, sutradara Sim F menggunakan pendekatan yang sangat naratif melalui palet warna yang digunakan dalam setiap adegan.
Bagian masa lalu dibalut dengan warna-warna hangat untuk memberikan kesan memori yang penuh rindu.
Sebaliknya, masa sekarang ditampilkan dengan warna netral kebiruan. Warna tersebut mewakili kondisi mental dari tokoh Kefas yang sedang berada dalam fase ambang (limbo). Perasaan dingin dan gelisah terpancar kuat melalui pilihan visual tersebut.
Warna itu tidak kembali lagi, saat kisah kilas-balik selesai dan Kefas dewasa bertemu kembali dengan teman-teman pantinya yang juga sudah beranjak dewasa.
Karakter-karakter ini, kini telah tumbuh menjadi pribadi yang matang dengan jalannya masing-masing. Ada Sabrina dewasa (Ruth Marini), Joy dewasa (Rania Putri Sari), Boni dewasa (Marthino Lio), Romi dewasa (Chicco Kurniawan), dan Desi dewasa (Widika Darsih Sidmore).
Dalam pertemuan tersebut, mereka saling bertanya mengenai profesi masing-masing di dunia kerja. Percakapan santai itu menjadi bukti nyata bahwa mereka sudah menyelesaikan masa lalu di panti asuhan.
Ini adalah sebuah refleksi tentang bagaimana manusia menavigasi diri di dalam ruang-ruang transisi kehidupan.
Film "Surat untuk Masa Mudaku" memperlihatkan bahwa kejujuran seorang pengasuh dapat menjadi kompas bagi anak asuhnya untuk menemukan jalan pulang ke diri mereka sendiri secara jujur.
Meskipun setiap tokoh memiliki luka dan fase limbo-nya masing-masing, kompas moral itu tetap menjadi kunci bagi anak-anak di film ini untuk terus melangkah maju menghadapi hari baru masing-masing.
Sumber: ANTARA