Istanbul (KABARIN) - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Minggu (1/2) mengatakan perundingan nuklir yang bermakna dengan Amerika Serikat (AS) masih mungkin dilakukan jika rasa saling percaya Iran dapat dipulihkan.
Namun, Abbas Araghchi sekaligus memperingatkan bahwa setiap konfrontasi militer dalam bentuk apa pun akan melebar dan menyeret kawasan yang lebih luas.
Dalam wawancara dengan CNN International, Menlu Iran mengatakan ia tidak mengkhawatirkan perang, melainkan risiko salah perhitungan yang dipicu oleh informasi keliru serta upaya pihak luar yang mendorong Washington menuju konflik.
Araghchi menyatakan Iran telah kehilangan kepercayaan terhadap AS sebagai mitra perundingan. Meski demikian, sejumlah negara di kawasan berperan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan dan membantu membangun kembali kepercayaan tersebut.
“Sayangnya, kami telah kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai mitra perundingan,” kata Araghchi. “Kami perlu mengatasi ketidakpercayaan ini.”
Ia menilai pertukaran komunikasi yang berlangsung saat ini bersifat “produktif” dan dapat mempersiapkan landasan bagi perundingan yang lebih substansial.
Araghchi menekankan bahwa fokus seharusnya ditempatkan pada substansi perundingan, bukan pada formatnya, dan tidak mempermasalahkan apakah kontak tersebut langsung atau tidak langsung.
Merujuk pada tujuan Presiden AS Donald Trump untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, Araghchi mengatakan Teheran sependapat dengan tujuan tersebut.
“Karena itu, saya melihat adanya kemungkinan pembicaraan lanjutan jika tim perunding Amerika Serikat mengikuti apa yang disampaikan Presiden Trump,” ujarnya. “Yakni mencapai kesepakatan yang adil dan setara untuk memastikan tidak ada senjata nuklir.”
“Namun tentu saja, sebagai imbalannya kami mengharapkan pencabutan sanksi,” tambahnya.
Araghchi menolak perluasan agenda perundingan yang mencakup program rudal balistik Iran atau kelompok-kelompok sekutu regionalnya. Ia mengatakan para perunding tidak seharusnya mengejar hal-hal yang “tidak mungkin.”
Terkait kemungkinan perang dengan AS, ia mengatakan konflik semacam itu akan menjadi “bencana bagi semua pihak.” Menurutnya, karena pangkalan militer AS tersebar di berbagai negara di kawasan, pertempuran tidak terelakkan akan melibatkan banyak negara.
Araghchi mengatakan Iran telah mengambil pelajaran dari konflik sebelumnya dengan Israel dan telah menguji kemampuan rudalnya dalam pertempuran nyata, sehingga meningkatkan pemahaman atas kekuatan dan kelemahannya.
“Saya kira kami kini sangat siap. Namun, kesiapan tidak berarti kami menginginkan perang,” katanya. “Kami ingin mencegah perang.”
Menanggapi kekhawatiran yang disampaikan Trump terkait para tahanan di Iran, Araghchi membantah adanya rencana pelaksanaan hukuman mati yang terkait dengan kerusuhan baru-baru ini.
Menlu Iran itu mengatakan hak seluruh orang yang ditangkap dan ditahan akan dihormati dan dijamin.
Baca juga: Arab Saudi Tetap Dukung Solusi Damai untuk Konflik AS-Iran
Baca juga: Turki Siap Jadi Mediator Antara AS dan Iran
Sumber: Anadolu_OANA