India Tawarkan Pajak Nol hingga 2047 untuk Tarik Perusahaan AI Global

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - India siap memanjakan penyedia layanan cloud asing dengan bebas pajak hingga tahun 2047. Kebijakan ini berlaku untuk layanan cloud yang dijual ke luar negeri selama dijalankan dari pusat data di India.

Menurut laporan TechCrunch pada Minggu (1/2), insentif ini bagian dari strategi India menarik investasi besar di sektor komputasi dan AI di masa depan.

Menteri Keuangan India Nirmala Sitharaman mengumumkan dalam anggaran tahunan bahwa insentif pajak ini berarti pajak nol atas pendapatan layanan cloud yang dijual ke luar negeri asal dijalankan dari pusat data lokal. Dia menambahkan untuk penjualan di dalam negeri, layanan tetap harus melalui reseller lokal dan dikenai pajak domestik.

Pengumuman ini muncul di tengah persaingan ketat raksasa cloud AS seperti Amazon, Google, dan Microsoft yang memperluas kapasitas pusat data mereka di seluruh dunia untuk mendukung lonjakan permintaan AI.

Dengan banyak talenta teknik dan permintaan layanan cloud yang meningkat, India ingin menjadi alternatif AS, Eropa, dan beberapa wilayah Asia untuk pengembangan infrastruktur komputasi. Google, Microsoft, dan Amazon sudah menyiapkan investasi besar di India.

Google berencana menanamkan 15 miliar dolar AS tambahan setelah menanam 10 miliar dolar AS pada 2020. Amazon menambah investasi 35 miliar dolar AS hingga 2030 sehingga totalnya mencapai sekitar 75 miliar dolar AS. Microsoft menyiapkan 17,5 miliar dolar AS hingga 2029 untuk memperluas infrastruktur AI, pusat data, dan pelatihan.

Digital Connexion juga menyiapkan investasi 11 miliar dolar AS hingga 2030 untuk membangun kampus pusat data AI berkapasitas 1 gigawatt di Andhra Pradesh. Adani Group berencana menanam hingga 5 miliar dolar AS bersama Google untuk proyek serupa.

Meski begitu, membangun pusat data besar di India tidak mudah. Listrik yang tidak merata, biaya tinggi, dan kelangkaan air menjadi kendala utama bagi beban kerja AI yang boros energi.

“Pengumuman tentang pusat data menandakan bahwa sektor ini diperlakukan sebagai sektor bisnis strategis, bukan hanya infrastruktur pendukung,” kata Rohit Kumar, mitra pendiri The Quantum Hub di New Delhi.

Dia menilai dorongan ini akan menarik lebih banyak investasi swasta dan memperkuat posisi India sebagai pusat data regional, meski pasokan listrik, lahan, dan perizinan di tingkat negara bagian masih menjadi tantangan.

Sagar Vishnoi, pendiri Future Shift Labs di Noida, menyebut kapasitas listrik pusat data India diperkirakan melampaui 2 gigawatt pada 2026, naik dari sedikit di atas 1 gigawatt saat ini. Ia menambahkan kapasitas listrik bisa lebih dari lima kali lipat menjadi 8 gigawatt pada 2030 dengan investasi lebih dari 30 miliar dolar AS.

Vishnoi menilai kebijakan pajak nol hingga 2047 menunjukkan “taruhan strategis pada perusahaan teknologi besar global” sekaligus membuka peluang India membangun perusahaan teknologi unggulan sendiri dalam dua dekade mendatang.

Sumber: Tech Crunch

Bagikan

Mungkin Kamu Suka