Kairo (KABARIN) - Kelompok pertama warga Palestina yang terluka sudah mulai menyeberang dari Jalur Gaza ke Mesir pada Senin (2/2), menandai fase baru dalam gencatan senjata di wilayah itu.
Menurut sumber Palestina, lima pasien bersama 10 anggota keluarga atau perawat mereka dipindahkan dari Gaza selatan ke Mesir untuk mendapatkan perawatan medis. Meski gencatan senjata memungkinkan pergerakan dua arah, sampai saat ini belum ada warga Palestina yang kembali dari Mesir ke Gaza.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan konvoi ambulans kuning melintasi perbatasan membawa para pasien. Media pemerintah Mesir, Al-Qahera News, mengonfirmasi pemindahan ini dan memastikan pihak berwenang telah menyiapkan logistik agar penyeberangan berjalan lancar.
Rumah sakit di El Arish, Sinai Utara, sudah disiapkan penuh dengan tim medis, ruang ICU, dan ruang operasi siap menerima pasien dari Gaza.
Langkah ini mengikuti dibukanya kembali perlintasan Rafah secara parsial, satu-satunya jalur keluar-masuk Gaza yang tidak dikendalikan Israel. Perlintasan ini sebagian besar ditutup sejak Mei 2024, memperparah krisis kemanusiaan bagi 2,3 juta warga Gaza.
Pada Minggu (1/2), Rafah dibuka untuk uji coba sebelum pengoperasian penuh dimulai Senin sesuai fase kedua gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Saat ini, sekitar 150 warga Palestina diperbolehkan keluar setiap hari, sementara maksimal 50 orang bisa kembali ke Gaza dari Mesir.
Pembukaan kembali Rafah jadi tanda stabilitas gencatan senjata dan diharapkan mempermudah penyaluran bantuan kemanusiaan sekaligus memberi sedikit kelegaan bagi warga Gaza yang telah terisolasi lebih dari 18 bulan.
Sumber: Xinhua