Nanning (KABARIN) - Januari dan Februari menjadi bulan tersibuk dalam setahun bagi pedagang buah Huang Chunlian. Menjelang Festival Musim Semi, atau Tahun Baru Imlek, Huang menerima banyak pesanan dan pertanyaan untuk buah, kacang-kacangan, serta penganan lain yang diimpor dari negara-negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Di tokonya di Pingxiang, sebuah kota di perbatasan China-Vietnam di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, ponselnya terus berbunyi menandakan pesan baru saat dia menangani pesanan pelanggan tetap, sembari mengunggah pembaruan di media sosial yang mempromosikan paket hadiah durian Monthong dan pomelo Thailand.
Festival Musim Semi merupakan momen kumpul keluarga terpenting di China sekaligus periode puncak bagi keluarga untuk berbelanja buah dan kacang premium guna menjamu anggota keluarga yang pulang kampung serta kerabat yang berkunjung. Buah impor, termasuk ceri dari Chile dan buah tropis dari ASEAN, turut meramaikan pesta belanja selama perayaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Li Lan, seorang warga Nanning, ibu kota Guangxi, buah impor kini menjadi bagian penting persiapan perayaan keluarganya. "Pomelo Thailand wajib ada, sebagian untuk kami sendiri dan sebagian lagi sebagai hadiah saat mengunjungi kerabat.
"Dulu saya membeli di toko. Tahun ini saya bergabung dengan beberapa grup obrolan untuk membeli buah secara kolektif," ujarnya, seraya menambahkan pemesanan via platform daring memudahkannya melakukan perbandingan harga dan kualitas sekaligus menghemat waktu.
China merupakan salah satu pasar konsumen buah terbesar di dunia. Data menunjukkan bahwa pada 2025, China mengimpor 9,03 juta ton buah senilai 18,94 miliar dolar AS, masing-masing naik 17,5 persen dan 6,7 persen.
Para importir di Guangxi, yang berlokasi dekat Asia Tenggara, merasakan langsung lonjakan permintaan buah ASEAN menjelang festival ini.
Ma Chengyi, manajer umum Guangxi Ningming Tianze Customs Broker Co., Ltd., mengatakan perusahaannya telah mengimpor lebih dari 100 truk bermuatan buah ASEAN melalui Pelabuhan Aidian sejak Januari, dengan nilai kargo melampaui 45 juta yuan (1 yuan = Rp2.437) atau sekitar 6,48 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.826), melonjak 63 persen dari setahun sebelumnya.
"Januari bukan musim panen durian, tetapi kami tetap mengimpor sekitar 200 kontainer durian dan buah-buah lainnya bulan lalu, dibandingkan hanya puluhan kontainer pada periode yang sama tahun lalu," kata Wu Mingzhe, manajer Guangxi Asia Global International Freight Co., Ltd.
Ma dan Wu mengaitkan lonjakan bisnis mereka dengan meningkatnya minat China terhadap buah ASEAN serta proses bea cukai yang lebih cepat.
China merupakan salah satu pasar konsumen buah terbesar di dunia. Data menunjukkan bahwa pada 2025, China mengimpor 9,03 juta ton buah senilai 18,94 miliar dolar AS, masing-masing naik 17,5 persen dan 6,7 persen.
Masih di Guangxi, Pelabuhan Qinzhou juga memperluas rute maritim yang menghubungkan China dengan daerah-daerah penghasil buah utama di Asia Tenggara, termasuk Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Pada 2025, pelabuhan ini mengoperasikan 44 rute pelayaran ASEAN, menyediakan jalur tambahan impor buah selain perlintasan perbatasan darat.
Durian menyumbang porsi besar dari impor tersebut. Tahun lalu, China mengimpor durian segar senilai 7,49 miliar dolar AS, naik 7,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara volume impor melonjak hampir 20 persen menjadi 1,87 juta ton. Thailand dan Vietnam menjadi pemasok utama durian.
Di pelabuhan perbatasan Guangxi, gerbang utama produk pertanian ASEAN yang akan masuk ke China, durian, manggis, dan buah segar lainnya tiba dengan truk dan melewati jalur cepat bea cukai menuju pasar-pasar di seluruh China dalam lonjakan musiman yang oleh kalangan pedagang dijuluki "arus perjalanan manis".
Fan Lihui, pejabat departemen inspeksi perbatasan di Friendship Pass, mengatakan sistem pemeriksaan terbaru telah memangkas waktu inspeksi menjadi sekitar 15 detik per truk, meningkatkan efisiensi sekitar 75 persen.
"Nangka yang dipetik di Provinsi Tien Giang, Vietnam, pada pagi hari dapat tiba di pasar buah di Nanning pada sore hari dan kemudian dikirim ke seluruh China," kata Fan, seraya menambahkan platform digital kini memungkinkan perusahaan mengajukan deklarasi bea cukai secara jarak jauh, sehingga tidak lagi memerlukan dokumen kertas.
Masih di Guangxi, Pelabuhan Qinzhou juga memperluas rute maritim yang menghubungkan China dengan daerah-daerah penghasil buah utama di Asia Tenggara, termasuk Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Pada 2025, pelabuhan ini mengoperasikan 44 rute pelayaran ASEAN, menyediakan jalur tambahan impor buah selain perlintasan perbatasan darat
"Preferensi konsumen China yang semakin menyukai makanan impor yang lebih segar dan berkualitas tinggi mengubah pola belanja liburan serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan impor buah-buahan ASEAN," kata Wu Mingzhe.
Sumber: Xinhua