Atraksi Barongsai di Indonesia: Jejak Budaya, Harmoni, hingga Prestasi

waktu baca 4 menit

Jakarta (KABARIN) - Atraksi barongsai atau tarian singa dari Tiongkok sudah lama menjadi bagian dari perayaan Imlek di Indonesia. Namun kini, barongsai tidak lagi sekadar tontonan hiburan.

Di balik gerakannya yang energik, tersimpan nilai budaya, spiritualitas, kebersamaan, hingga prestasi yang mengharumkan nama Indonesia.

Budayawan dan peneliti ketionghoaan Alexander Raymon atau Alex Cheung menjelaskan bahwa barongsai bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga sarana ekspresi nilai-nilai kehidupan seperti harapan, keberanian, optimisme, persatuan, dan semangat kolektif.

Sosok singa dalam barongsai dipercaya memiliki makna simbolik sebagai pelindung dari energi negatif serta pembawa keberuntungan, kemakmuran, dan kedamaian.

“Di masa lampau, masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa singa yang menari memiliki kekuatan mengusir kejahatan, itu sebabnya dalam perayaan tahun baru Imlek atau perayaan Tionghoa lainnya, masyarakat Tionghoa akan mempersembahkan pertunjukan barongsai singa,” kata dia.

Wujud harmoni

Kehadiran barongsai di Indonesia seiring dengan sejarah panjang komunitas Tionghoa di Nusantara. Namun seiring waktu, barongsai berkembang menjadi bagian dari budaya Indonesia yang lebih luas, tidak lagi terbatas pada satu etnis atau komunitas.

Sejak era reformasi, pertunjukan barongsai semakin terbuka di ruang publik. Atraksi ini tidak hanya muncul saat Imlek atau Cap Go Meh, tetapi juga tampil dalam festival budaya, acara institusi, hingga kegiatan masyarakat umum.

Barongsai di Indonesia juga mengalami banyak adaptasi kreatif. Mulai dari sentuhan budaya lokal, kolaborasi dengan tarian modern, hingga penggunaan musik populer sebagai pengiring pertunjukan. Menurut Alex, perkembangan ini justru memperkaya identitas barongsai di Indonesia.

“Ini tidak membuat identitas dan kebudayaan Tionghoa memudar, tapi justru mewarnai identitas seni pertunjukan barongsai itu sendiri dengan kekhasan di setiap daerah di Indonesia,” ujarnya.

Berbagai komunitas dan perkumpulan berperan besar menjaga keberlanjutan barongsai. Menariknya, barongsai kini menjadi ruang inklusif yang terbuka untuk semua kalangan tanpa memandang suku, agama, maupun ras.

Salah satunya Yayasan Barongsai Kong Ha Hong yang telah lebih dari 20 tahun aktif mengembangkan barongsai di Indonesia dan berhasil meraih lima gelar juara dunia.

Ketua yayasan, Ronald Sjarif, mengatakan pihaknya membuka kesempatan luas bagi siapa pun yang ingin bergabung, bahkan sejak usia sekitar delapan tahun.

“Kita enggak saring-menyaring, yang penting ada anggota baru. Biasanya kita terima minimum sekitar 8 tahun dan tidak membedakan suku, agama, dan ras. Dan karena ini yayasan sosial, jadi kami melatih mereka sampai bisa main. Kalau hobi oke silakan, dan kami tidak pungut bayaran,” kata dia.

Tradisi dan ajang prestasi

Atraksi barongsai dimainkan oleh dua penari dalam satu kostum singa yang bergerak selaras mengikuti irama tambur, simbal, dan gong. Selain sebagai bagian dari tradisi budaya, barongsai kini juga berkembang sebagai hiburan modern dan ajang prestasi.

Pelatih Barongsai Kong Ha Hong, Andri Wijaya, menjelaskan bahwa barongsai saat ini sudah diakui sebagai cabang olahraga resmi.

“Ada perbedaan karena yang satu untuk hiburan atau olahraga yang satu lagi untuk budaya,” kata Andri.

Sebagai tradisi budaya, barongsai tetap menjaga ritual dan tata cara tertentu, seperti doa, prosesi ke vihara, serta simbol-simbol makna dalam setiap pertunjukan.

Sementara dalam konteks hiburan, barongsai tampil lebih fleksibel dengan koreografi modern dan konsep pertunjukan yang disesuaikan dengan selera penonton.

Di sisi lain, barongsai sebagai olahraga berkembang dengan teknik yang semakin kompleks dan tingkat kesulitan yang tinggi. Barongsai bahkan sudah dipertandingkan secara resmi sejak diakui sebagai cabang olahraga nasional dan memiliki federasi sebagai induk organisasi.

“Pertunjukan barongsai sebagai olahraga itu ada tekniknya. Karena sekarang ini barongsai sudah berkembang sebagai olahraga, tekniknya sudah makin tinggi kesulitannya. Makin susah, makin sulit,” kata Andri.

Kini, barongsai juga banyak dipadukan dengan seni bela diri seperti kungfu dan wushu, membuat gerakannya semakin dinamis, artistik, dan atraktif.

Andri berharap perkembangan barongsai di Indonesia bisa terus melahirkan generasi muda baru yang tertarik menekuni barongsai, bukan hanya sebagai hobi, tetapi juga sebagai jalur prestasi.

“Kita berharap dengan adanya olahraga ini tumbuh lagi generasi muda yang menggemari barongsai," kata Andri.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka