Belum Ada Vaksin, Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kematian Akibat Nipah

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Dokter spesialis penyakit dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Timoteus Richard, Sp.PD, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap infeksi Nipah virus (NiV), terutama di tengah meningkatnya mobilitas lintas negara.

“Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal,” ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu.

Virus Nipah merupakan virus RNA dari kelompok Paramyxovirus yang pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, terutama di area peternakan babi.

Reservoir alami virus ini adalah kelelawar pemakan buah. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan hewan perantara seperti babi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, hingga kontak erat antarmanusia.

Infeksi Nipah dapat menyerang sistem pernapasan dan saraf pusat, dengan risiko komplikasi berat hingga kematian. Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik untuk mengatasi penyakit tersebut.


Gejala Awal Sering Tak Disadari

Menurut dr. Timoteus, gejala awal infeksi sering menyerupai penyakit umum, sehingga kerap tidak langsung dicurigai.

Gejala biasanya muncul dalam 5–14 hari setelah paparan, meliputi:

  • Demam tinggi mendadak
  • Sakit kepala berat
  • Nyeri otot
  • Mual dan muntah
  • Tubuh terasa lemas

Dalam kondisi lebih berat, pasien dapat mengalami batuk, sesak napas, gangguan pernapasan akut, penurunan kesadaran, kejang, hingga radang otak (ensefalitis).

“Jika sudah terjadi penurunan kesadaran atau gangguan napas, pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.


Potensi Risiko di Indonesia

Meski belum terjadi wabah besar di dalam negeri, risiko penularan tetap perlu diantisipasi. Indonesia memiliki habitat kelelawar buah dan menerima kedatangan pelaku perjalanan dari negara yang pernah melaporkan kasus, seperti India dan Bangladesh.

Karena itu, kesiapan layanan kesehatan, penguatan sistem deteksi dini, serta edukasi masyarakat dinilai krusial untuk mencegah dampak luas penyakit ini.

Di tengah mobilitas global yang semakin tinggi, kewaspadaan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, tetapi juga masyarakat untuk segera memeriksakan diri bila mengalami gejala mencurigakan.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka