Indonesia Bidik Rantai Pasok Global lewat Kolaborasi AI dan Semikonduktor

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Langkah Indonesia memperkuat posisi di peta teknologi global semakin nyata. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, aktif mendorong kolaborasi internasional dalam pengembangan semikonduktor dan kecerdasan artifisial (AI) saat menghadiri AI Impact Summit 2026 di New Delhi, 18–20 Februari 2026.

Forum ini mempertemukan para pemimpin industri teknologi India, termasuk Tata Group dan Netweb Technologies (Tyrone), yang dikenal sebagai pemain penting di sektor semikonduktor dan server berbasis AI.

Dalam pertemuan tersebut, Nezar menyoroti potensi besar Indonesia dalam rantai pasok global, terutama berkat cadangan mineral kritis seperti pasir silika—bahan utama dalam produksi chipset dan semikonduktor.

Ia menegaskan komitmen Indonesia terhadap hilirisasi mineral agar tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga membangun industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri. Kolaborasi dengan perusahaan global dinilai krusial untuk mendorong transfer teknologi dan penguatan sumber daya manusia di bidang manufaktur teknologi tinggi.

Saat ini, Tata Electronics—bagian dari Tata Group—tengah membangun fasilitas perakitan dan pengujian semikonduktor pertama di India. Sementara itu, Netweb Technologies dikenal lewat inovasinya dalam pengembangan server AI berperforma tinggi. Sinergi dengan perusahaan-perusahaan ini diharapkan membuka peluang strategis bagi Indonesia.

Talenta Muda Indonesia Curi Perhatian

Tak hanya menjajaki kerja sama industri, Nezar juga memberikan apresiasi kepada siswa-siswi Indonesia yang meraih penghargaan dalam Intel Global Competition Award.

Dua proyek berbasis AI mendapat sorotan khusus:

  • Agrify, platform web berbasis AI karya Muh. Salman A Farisi dan Muh. Sultan Narulloh Telaumbanua. Menggunakan teknologi computer vision melalui fitur Plant Doctor, platform ini mampu mendiagnosis penyakit tanaman secara instan serta menghadirkan Smart Farming Schedule berbasis analisis cuaca dan pasar untuk meningkatkan produktivitas petani kecil.
  • SITANGGAP (Rapid Stroke Symptom Capture System), dikembangkan Andre Nugraha dan Nurissa’idah. Sistem ini memanfaatkan kamera dan mikrofon untuk mendeteksi dini gejala stroke melalui analisis ekspresi wajah dan pola suara, merujuk standar medis NIHSS. Solusi ini ditujukan untuk mempercepat respons publik terhadap stroke dan mendukung target kesehatan global.

Menurut Nezar, prestasi tersebut membuktikan bahwa talenta digital Indonesia memiliki daya saing global dan mampu menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.

Dialog dengan Raksasa Teknologi Dunia

Di sela-sela summit, Nezar juga berdiskusi dengan sejumlah perusahaan teknologi global seperti Qualcomm, Intel, Salesforce, dan Meta.

Pembahasan mencakup perkembangan AI terkini, pemanfaatan AI untuk pelayanan publik, hingga pembangunan infrastruktur digital yang adaptif dan berkelanjutan.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tak sekadar menjadi pasar teknologi, tetapi ingin naik kelas sebagai pemain strategis dalam rantai pasok digital global—mulai dari mineral, manufaktur, hingga inovasi berbasis AI.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka