AS Tutup Kedubesnya di Riyadh Imbas Serangan Drone

waktu baca 2 menit

Istanbul (KABARIN) - Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, resmi ditutup sementara pada Selasa (3/3) setelah terjadi serangan nirawak (drone) di wilayah tersebut. Penutupan ini sekaligus membuat seluruh layanan bagi warga negara Amerika dibatalkan, baik layanan rutin maupun darurat.

“Kedutaan AS di Arab Saudi tutup pada Selasa, 3 Maret. Semua janji layanan warga negara Amerika, baik rutin maupun darurat, dibatalkan,” demikian pernyataan kedutaan melalui platform media sosial X.

Selain menutup operasional, pihak kedutaan juga menegaskan bahwa imbauan untuk tetap berada di tempat perlindungan masih berlaku bagi wilayah Jeddah, Riyadh, dan Dhahran. Warga negara Amerika yang berada di Arab Saudi diminta tetap berada di lokasi aman masing-masing hingga situasi dinyatakan kondusif.

Kedutaan juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mendekati area kompleks kedutaan sampai ada pemberitahuan lanjutan. Pembatasan perjalanan ke sejumlah instalasi militer di kawasan pun masih diberlakukan, terutama untuk perjalanan yang tidak mendesak.

Dalam keterangannya, pihak kedutaan turut meminta warga Amerika agar terus memantau pembaruan peringatan keamanan, meninjau ulang rencana perjalanan, serta memastikan rencana keselamatan pribadi tetap siap jika situasi memburuk.

Sebelumnya, Kedutaan Besar AS di ibu kota Arab Saudi menjadi target serangan drone yang memicu kebakaran terbatas dan menyebabkan kerusakan material ringan. Kementerian Pertahanan Arab Saudi memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer gabungan ke Iran pada Sabtu lalu.

Serangan udara tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Teheran kemudian meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Kondisi ini membuat situasi keamanan regional kembali menjadi sorotan dunia, dengan sejumlah negara mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas.

Sumber: ANAD

Bagikan

Mungkin Kamu Suka