Purbaya: Fiskal RI Tetap Terkendali Meski Ketegangan AS-Iran Memanas

waktu baca 2 menit

Saya sudah hitung (harga minyak mentah) sampai 92 (dolar AS per barel) pun kita masih bisa kendalikan anggaran, jadi enggak ada masalah

Jakarta (KABARIN) - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal Indonesia tetap stabil walau tensi geopolitik dunia, termasuk konflik Amerika Serikat dan Iran, sedang meningkat.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya sebelum bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa. Ia menjelaskan dampak konflik biasanya lebih dulu terasa pada sektor ekspor dan pergerakan harga minyak dunia.

Pemerintah, kata dia, sudah menghitung berbagai kemungkinan jika harga minyak melonjak tajam. Bahkan dalam simulasi terburuk ketika harga minyak mentah menyentuh 92 dolar AS per barel, anggaran negara masih dinilai terkendali.

"Saya sudah hitung harga minyak mentah sampai 92 dolar AS per barel pun kita masih bisa kendalikan anggaran, jadi enggak ada masalah," kata Purbaya.

Ia menegaskan situasi ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan karena pemerintah masih punya ruang untuk menyesuaikan kebijakan fiskal jika diperlukan.

Purbaya juga menyinggung potensi risiko jika jalur distribusi minyak global seperti Selat Hormuz terganggu. Kondisi itu bisa membuat biaya impor energi naik dan memberi tekanan pada defisit anggaran.

Meski begitu, pemerintah menyiapkan langkah antisipasi dengan mengoptimalkan penerimaan negara, terutama dari pajak dan bea cukai.

"Kita pastikan aja pertama tax collection kita, pengumpulan pajak kita sama Bea Cukai enggak ada yang bocor. Itu sudah mengurangi tekanan ke defisit," ujarnya.

Setelah memastikan penerimaan negara optimal, pemerintah akan menghitung kembali dampak lanjutan dan menentukan kebijakan tambahan bila memang dibutuhkan.

Purbaya tetap optimistis ekonomi Indonesia mampu bertahan selama konsumsi dalam negeri yang menyumbang sekitar 90 persen terhadap pertumbuhan tetap terjaga.

"Ekonomi kita masih bisa maju, enggak ada masalah. Dan kalaupun di atas, asalkan kita bisa jaga domestic demand yang 90 persen kontribusinya ke ekonomi, kita juga masih bisa survive," imbuhnya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka