Kondisi melukai terhadap perempuan terjadi karena korban adalah perempuan sehingga kekerasan yang terjadi terhadap korban merupakan kekerasan berbasis gender
Jakarta (KABARIN) - Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) memandang bahwa kasus penganiayaan terhadap seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau terjadi karena relasi yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan.
"Kasus di UIN Suska tersebut terjadi karena adanya relasi yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Konstruksi relasi yang tidak setara tersebut menggambarkan konstruksi yang ada di masyarakat kita yang masih patriarki," kata Anggota Komnas Perempuan Devi Rahayu saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
Dalam relasi yang tidak setara tersebut, lanjutnya, perempuan dianggap sebagai pihak yang lemah, mudah diatur, dan lebih rendah.
"Atas konstruksi ini, saat perempuan melakukan tindakan yang tidak dikehendaki oleh laki-laki, maka dengan memandang karena dia perempuan, laki-laki dapat melakukan tindakan kekerasan. Kondisi melukai terhadap perempuan terjadi karena korban adalah perempuan sehingga kekerasan yang terjadi terhadap korban merupakan kekerasan berbasis gender," kata Devi Rahayu.
Komnas Perempuan menyesalkan terjadinya kasus ini, terlebih peristiwa terjadi di kampus.
"Kampus yang merupakan ruang publik seharusnya mampu memberikan jaminan ruang aman bagi sivitas akademika," kata Devi Rahayu.
Sebelumnya FAP (23), mahasiswi UIN Suska Riau, menjadi korban penganiayaan berat yang dilakukan oleh teman kuliahnya, RM (22), pada 26 Februari 2026.
Penganiayaan terjadi di kampus UIN Suska Riau ketika korban hendak menjalani sidang seminar proposal.
Penganiayaan berat ini dilatarbelakangi motif hubungan pribadi.
Polda Riau telah menetapkan RM sebagai tersangka. Sementara korban saat ini masih dalam proses pemulihan pasca-operasi besar.
Sumber: ANTARA