Rusia Waspadai Ekspansi Nuklir NATO, Sebut Situasi Makin Sensitif

waktu baca 2 menit

Moskow (KABARIN) - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan keputusan Prancis dan Inggris untuk memperluas persenjataan nuklir memerlukan “pertimbangan yang cermat” dalam perencanaan militer Rusia.

Berbicara dalam konferensi pers di Moskow, pada Rabu (4/3), Zakharova menekankan bahwa keputusan tersebut direncanakan di luar pembatasan internasional.

“Akibatnya, perluasan kemampuan NATO di bidang militer-nuklir yang tidak terkendali memerlukan perhatian lebih dan pertimbangan yang hati-hati dalam pengembangan serta perencanaan militer kami sendiri,” katanya.

Zakharova juga menyoroti bahwa negara-negara NATO sedang memperkuat koordinasi dalam mengadopsi dan melaksanakan kemungkinan keputusan mengenai penggunaan senjata nuklir terhadap hal yang disebut sebagai "musuh bersama".

“Dari perspektif keamanan Rusia, fakta bahwa NATO secara tradisional menganggap negara kami sebagai musuh memiliki arti yang sangat penting. Ini tidak disembunyikan dan terus ditekankan dengan berbagai cara, sering kali dibingkai dalam propaganda,” tambahnya.

Pada Senin (2/2), Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa delapan negara Eropa menyatakan keinginan untuk bekerja sama dengan Paris dalam sistem pencegah nuklir bersama. Negara-negara tersebut adalah Jerman, Inggris, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, saat mengomentari inisiatif tersebut dalam konferensi pers pada Selasa, mengatakan bahwa “risiko proliferasi nuklir yang tidak terkendali semakin meningkat.”

Menanggapi pertanyaan Anadolu mengenai putaran berikutnya dari perundingan Rusia-Ukraina, Zakharova mengatakan bahwa negosiator Rusia Vladimir Medinsky akan mengumumkan tanggal dan lokasi baru setelah disepakati.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya mengatakan pembicaraan tersebut dijadwalkan berlangsung pada awal Maret di Abu Dhabi.

Namun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pembicaraan itu dibatalkan “karena alasan yang jelas” di tengah eskalasi di Timur Tengah.

Sumber: ANAD

Bagikan

Mungkin Kamu Suka