Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respons Seseorang Terhadap Kekecewaan

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) -

Setiap orang pasti pernah merasa kecewa. Tapi, cara kita merespons kekecewaan ternyata nggak selalu sama. Menurut Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, kunci dari respons yang sehat terletak pada kemampuan seseorang dalam mengelola emosi.

"Orang yang mampu merespons kekecewaan secara lebih sehat umumnya dapat mengenali apa yang ia rasakan, menahan rasa tidak nyaman, serta mengekspresikan perasaan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain," kata Ratih, psikolog lulusan Universitas Indonesia, saat dihubungi pada Kamis.

Lebih lanjut, kemampuan ini biasanya dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil dan lingkungan keluarga. Kalau sejak kecil kamu diajari untuk menenangkan diri saat marah dan diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan secara aman, besar kemungkinan kamu bisa mengelola emosi dengan lebih baik. Akibatnya, kekecewaan pun bisa dihadapi dengan cara yang lebih sehat.

Sebaliknya, orang yang kesulitan memahami atau mengendalikan emosi cenderung merespons kekecewaan secara agresif. Ratih menjelaskan, perasaan sedih atau terluka sering kali cepat berubah jadi kemarahan sebagai bentuk perlindungan diri. "Kemarahan bisa dipilih sebagai cara instan untuk melepaskan ketidaknyamanan," ujarnya.

Selain pengalaman hidup, faktor seperti stres berkepanjangan, kelelahan mental, atau trauma juga bisa bikin seseorang lebih mudah bereaksi impulsif saat menghadapi tekanan. "Faktor-faktor tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara impulsif ketika menghadapi situasi yang memicu frustrasi," tambah Ratih.

Sementara itu, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog, menekankan kalau kemampuan mengelola emosi nggak muncul begitu saja. Semua perlu dilatih sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan.

Menurut Novi, sistem pendidikan selama ini lebih fokus pada kepatuhan dan instruksi, sehingga kemampuan berdialog, memahami emosi, dan mengambil keputusan sering nggak dilatih. Padahal, kemampuan berpikir kritis dan mengelola emosi itu penting banget. Kalau nggak, seseorang lebih gampang bereaksi impulsif ketika menghadapi tekanan.

Novi juga menyoroti pengaruh media sosial yang intens. Algoritma yang mendorong respons cepat dan emosional bisa bikin orang jarang mengambil jeda sebelum bereaksi. "Kalau kemampuan berpikirnya kuat, seseorang masih bisa menunda keputusan. Tapi kalau tidak, emosi lebih mudah mengambil alih," jelasnya.

Intinya, cara kamu merespons kekecewaan bukan cuma soal kepribadian, tapi juga soal latihan mengelola emosi, pengalaman hidup, dan kondisi sekitar. Jadi, nggak ada salahnya mulai belajar mengenali perasaan dan mengekspresikannya dengan sehat, biar kekecewaan nggak bikin kamu meledak-ledak.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka