Perang Timur Tengah Berpotensi Goyang Ekonomi Jakarta

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengingatkan bahwa konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah bisa memberi efek besar pada kondisi ekonomi Indonesia, termasuk Jakarta.

Menurutnya, jika perang berlangsung lama maka dampaknya akan terasa pada berbagai sektor. Salah satunya adalah perubahan besar pada rantai pasok global yang selama ini menjadi jalur distribusi berbagai kebutuhan.

“Karena kondisi ini, kalau perangnya lama pasti pengaruhnya besar. Kenapa pengaruhnya besar? 'Supply chain'-nya (rantai pasok) akan mengalami perubahan yang signifikan," kata Pramono saat menghadiri acara buka puasa bersama di kantor Wali Kota Jakarta Barat pada Senin.

Ia menjelaskan gangguan pada rantai pasok tersebut berpotensi membuat harga barang dan jasa meningkat. Kondisi itu juga bisa memengaruhi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

"Itu akan memberikan tekanan kepada APBN kita,” katanya.

Pramono juga menyoroti lonjakan harga minyak dunia yang terjadi belakangan ini. Ia menilai situasi tersebut berkaitan dengan memanasnya konflik antara Iran dan Amerika serta Israel di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, situasi global seperti ini bisa membuat Indonesia termasuk Jakarta harus menghadapi masa yang penuh tantangan. Karena itu ia meminta semua pihak di tingkat daerah untuk tetap solid menjaga stabilitas.

“Maka untuk itu, kebersamaan, gotong royong, saling mempercayai, itu termasuk menjadi kata kunci bagaimana kita sebagai bangsa besar menghadapi ini,” kata Pramono.

Sebelumnya, ia juga telah meminta jajaran Badan Usaha Milik Daerah milik Pemprov Jakarta untuk mulai bersiap menghadapi kemungkinan krisis akibat konflik tersebut.

“Saya menyampaikan kepada jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk kita selalu berpikir tentang krisis. Sehingga kalau ada kekurangan, misalnya produk-produk tertentu, kita harus mempersiapkan untuk itu,” ujar Pramono.

Ia berharap ketegangan di kawasan Timur Tengah tidak berlangsung lama. Namun sebagai pemimpin Jakarta, ia tetap mengingatkan bahwa dampaknya bisa terasa pada ketersediaan barang dan jasa di Ibu Kota.

Salah satu faktor penting yang menjadi perhatian adalah jalur distribusi global yang melewati Strait of Hormuz.

“Karena pertama, supply chain-nya ini melalui Selat Hormuz yang di situ hampir 30 persen lebih minyak dunia itu selalu melewati selat ini, termasuk juga barang-barang yang lain," katanya.

Jika jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup, distribusi barang akan menjadi lebih panjang dan biaya pengiriman meningkat. Dampaknya harga barang di pasar juga bisa ikut naik.

Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jakarta menggerakkan berbagai BUMD untuk menjaga pasokan kebutuhan pokok tetap aman. Salah satu contohnya adalah impor sapi dari Australia yang baru saja dilakukan pemerintah daerah.

Langkah itu diambil untuk menjaga keseimbangan harga daging sapi di Jakarta agar tidak melonjak di pasaran.

“Ini cara kita untuk supaya harga daging tidak mengalami kenaikan dan Alhamdulillah sampai hari ini tidak mengalami kenaikan,” kata Pramono.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka