Australia Kirim Pesawat Militer ke Teluk Persia, Situasi Iran Memanas

waktu baca 2 menit

Moskow (KABARIN) - Australia memutuskan mengerahkan pesawat peringatan dini udara E-7A Wedgetail beserta personel pendukung ke kawasan Teluk Persia selama empat pekan ke depan. Langkah ini dilakukan untuk mendukung operasi keamanan di kawasan yang tengah memanas akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dilansir dari laporan penyiar ABC News, Senin (9/3), Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan pengerahan tersebut merupakan bagian dari dukungan Australia di kawasan Timur Tengah.

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menyampaikan bahwa pesawat tersebut diperkirakan tiba di wilayah operasi pada pertengahan pekan ini.

Ia menambahkan, pesawat itu akan mulai menjalankan misi operasionalnya tidak lama setelah tiba.

“Pesawat tersebut diperkirakan tiba di kawasan itu pada pertengahan pekan dan mulai beroperasi pada akhir pekan,” demikian bunyi laporan yang disampaikan.

Selain pengerahan pesawat, Australia juga disebut akan memasok Uni Emirat Arab dengan rudal udara-ke-udara jarak menengah. Meski demikian, Albanese menegaskan bahwa Australia tidak akan mengirimkan pasukan militer ke Iran.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Tehran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan besar serta menimbulkan korban sipil.

Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah. Teheran menyebut langkah itu sebagai bentuk pertahanan diri.

Pada awalnya, AS dan Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan “pencegahan” terhadap ancaman dari program nuklir Iran. Namun belakangan, kedua negara itu juga menyebut keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Dalam perkembangan dramatis konflik tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama serangan gabungan AS dan Israel. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam peristiwa tersebut dan menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi militer yang dilakukan AS dan Israel, serta mendesak semua pihak untuk segera melakukan deeskalasi dan menghentikan pertempuran yang terus memanas di kawasan tersebut.

Sumber: Sputnik_OANA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka