Washington (KABARIN) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya baru saja melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (9/3). Dalam pembicaraan tersebut, keduanya membahas krisis Ukraina hingga konflik terbaru yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Trump menggambarkan percakapan itu berjalan sangat baik dan menyebut Putin menunjukkan sikap yang konstruktif, bahkan disebut ingin membantu meredakan situasi di Timur Tengah.
"Kami melakukan pembicaraan yang sangat baik dan dia ingin bersikap sangat konstruktif," kata Trump dalam konferensi pers di Florida.
Trump menjelaskan bahwa dalam percakapan tersebut mereka turut membahas konflik antara Rusia dan Ukraina yang kini telah berlangsung hampir lima tahun. Panggilan telepon ini juga menjadi komunikasi pertama mereka sejak serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Menurut Trump, pembahasan mengenai konflik tersebut berlangsung dengan nada positif.
"Itu adalah 'percakapan yang positif mengenai isu tersebut'," ujar Trump.
Sementara itu, dari pihak Kremlin, ajudan presiden Rusia Yuri Ushakov menyebut pembicaraan kedua pemimpin berlangsung sekitar satu jam dan berjalan secara terbuka serta langsung pada inti persoalan.
Ushakov mengatakan presiden Rusia itu "menyampaikan beberapa gagasan yang bertujuan mencapai penyelesaian politik dan diplomatik secara cepat" mengenai konflik tersebut menyusul pembicaraannya dengan para pemimpin negara Teluk dan presiden Iran, sementara Trump menyampaikan penilaiannya mengenai situasi yang sedang berkembang.
Selain konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, kedua pemimpin juga sempat menyinggung isu lain yang berkaitan dengan dinamika global.
Kedua pemimpin juga menyinggung Venezuela "dalam konteks situasi di pasar minyak global," kata Ushakov.
Pada hari yang sama, Putin juga mengingatkan bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat berdampak luas terhadap ekonomi dunia, khususnya pasar energi.
Ia mengatakan Rusia telah "berulang kali memperingatkan bahwa upaya untuk mendestabilisasi situasi di Timur Tengah pasti akan membahayakan" pasar energi global, meningkatkan harga, dan membatasi pasokan.
Sumber: Xinhua