Jakarta (KABARIN) - Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna menilai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) merupakan alternatif yang lebih irit untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi, apabila dibandingkan dengan biodiesel dan bioetanol.
“Kendaraan listrik lebih irit dalam biaya operasi dan tidak menjadi beban besar bagi subsidi negara,” ujar Putra ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.
Putra menyampaikan elektrifikasi merupakan jalan utama ke depan dan salah satu alasan China mendorong kuat industri kendaraan listrik mereka. Terlebih, China mengimpor sekitar 70 persen dari kebutuhan minyak mereka.
“Saat ini, Indonesia menggantikan setidaknya 3 ribu barel minyak per hari dengan kendaraan listrik,” ucap Putra.
Ia menekankan bahwa ketahanan energi sangat penting, namun yang perlu menjadi perhatian dari pemerintah adalah perbandingan biaya antara opsi yang ada.
Apabila perbandingan harga tidak dihitung dengan jelas, maka terdapat risiko Indonesia terjebak di dalam ekonomi berbiaya tinggi (high cost economy). Risiko tersebut dapat menjadi beban bagi masyarakat Indonesia dan mengurangi daya saing Indonesia di pasar global.
Oleh karena itu, meskipun biodiesel menggantikan setidaknya 270 ribu barel minyak per hari, Putra tetap menilai industri kendaraan listrik perlu lebih didorong. Ia menyampaikan, biodiesel bergantung kepada topangan subsidi berlipat, karena harganya lebih mahal daripada diesel biasa.
“Subsidi tambahan biodiesel sudah melejit menjadi sekitar Rp35–40 triliun dan akan naik terus bila pemerintah mendorong terus,” ucapnya.
Baca juga: Pakar Menilai Harga Minyak Dunia Masih Bisa Naik ke 130 Dolar AS
Selaras dengan itu, bioetanol menurut Putra bisa 20 persen lebih mahal daripada bensin. Selain itu, bioetanol tidak memiliki industri besar seperti sawit untuk menyubsidinya.
“Sehingga belum jelas pos anggaran dari mana yang akan pemerintah gunakan, terutama dengan APBN yang tertekan,” kata Putra.
Diwartakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan akan memberikan insentif untuk program konversi motor bensin menjadi motor listrik, sebagaimana yang sebelumnya telah dilakukan oleh Kementerian ESDM.
Akan tetapi, ia belum menentukan berapa jumlah target motor yang akan dikonversi, maupun nilai subsidi yang akan digelontorkan untuk program konversi motor listrik.
Target maupun jumlah insentif akan dibahas dalam rapat Satuan Tugas Percepatan Transisi Energi.
Konversi motor bensin menjadi motor listrik, kata Bahlil, merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi polusi dan melakukan transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan.
Baca juga: Thailand Terapkan Kebijakan Hemat Energi Akibat Harga Minyak Naik
Sumber: ANTARA