Jakarta (KABARIN) - PT Pertamina Patra Niaga memastikan layanan energi baik BBM dan LPG dalam kondisi aman selama Ramadhan hingga Idul Fitri.
"Layanan energi ini Insya Allah kita pastikan aman selama Ramadan Idul Fitri ini, sehingga kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panic buying," ujar Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra di Rest Area KM57, Cikampek, Jawa Barat pada Senin.
Pertamina Patra Niaga sendiri sudah menyiapkan BBM maupun LPG dalam kondisi yang cukup, karena proses penyediaannya itu tidak dilakukan minggu lalu atau dua minggu lalu, namun dilakukan jauh sebelumnya.
"Kami sudah siapkan BBM maupun LPG untuk Ramadan Idul Fitri ini sejak pascaNatal dan Tahun Baru," kata Mars Ega Legowo Putra.
Selanjutnya Pertamina Patra Niaga juga ada layanan atensi, khususnya untuk wilayah-wilayah yang perlu pengiriman distribusi khusus, seperti wilayah rawan bencana, wilayah wisata, dan mungkin area-area terpencil.
Sebagai informasi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H/Lebaran 2026.
Bahlil mengatakan cadangan berbagai jenis BBM saat ini berada di atas batas minimum sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran.
Bahlil menjelaskan cadangan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) RON 90 mencapai sekitar 24,39 hari.
Sementara itu, cadangan Jenis BBM Umum (JBU) RON 92 tercatat sekitar 28 hari dan RON 98 sekitar 31 hari.
Untuk jenis solar subsidi, kapasitas cadangan mencapai sekitar 16,41 hari, sedangkan solar CN 53 sekitar 46 hari dan avtur sekitar 38 hari.
Bahlil juga menyampaikan pasokan LPG nasional tetap terjaga meskipun rantai distribusi global mengalami dinamika.
Menurut dia, sekitar 70–72 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari Timur Tengah, dan sisanya dari sejumlah negara lain.
Untuk mengantisipasi ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah termasuk membuka peluang tambahan pasokan dari Amerika Serikat dan negara lain seperti Australia.
Sedangkan pasokan solar relatif lebih stabil karena seluruhnya diproduksi dari dalam negeri.
Kondisi tersebut juga didukung oleh beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Januari 2026 yang meningkatkan kapasitas produksi kilang nasional.
Proyek tersebut diperkirakan dapat mengurangi impor bensin hingga sekitar 5,5 juta ton dan solar sekitar 3,5 juta ton per tahun.
Sumber: ANTARA