Ericsson Hadirkan Teknologi Jaringan Berbasis AI untuk Percepat Pengembangan 5G di Indonesia

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Ericsson memperkenalkan teknologi baru berupa perangkat radio dan perangkat lunak jaringan yang didukung kecerdasan buatan. Inovasi ini ditujukan untuk membantu operator telekomunikasi termasuk di Indonesia dalam mengembangkan jaringan 5G yang lebih pintar dan efisien.

Teknologi tersebut memanfaatkan sistem Radio Access Network atau RAN yang telah dilengkapi kemampuan Artificial Intelligence atau AI. Dengan teknologi ini, operator dapat mengelola jaringan secara lebih adaptif sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan perkembangan jaringan 5G di Indonesia tidak hanya soal kecepatan internet, tetapi juga soal kecerdasan dan keberlanjutan jaringan.

“Dengan menghadirkan kemampuan AI langsung ke Radio Access Network, kami memungkinkan terbentuknya jaringan berperforma tinggi yang adaptif dan lebih efisien dalam penggunaan energi, sehingga dapat membantu operator di Indonesia mempercepat penyebaran jaringan sekaligus mengoptimalkan investasi jangka panjang,” kata Wahby.

Dalam portofolio teknologi terbaru ini, Ericsson menghadirkan sepuluh perangkat radio yang sudah siap mendukung AI. Selain itu ada peningkatan pada software RAN serta lima antena berperforma tinggi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi spektrum sekaligus memperkuat kualitas jaringan.

Dengan integrasi AI di sisi perangkat keras maupun perangkat lunak, operator dapat mengatur kapasitas jaringan secara lebih fleksibel. Sistem tersebut juga memungkinkan pengelolaan lalu lintas data menjadi lebih efisien sehingga operasional jaringan bisa berjalan lebih optimal.

Teknologi ini juga menghadirkan berbagai fitur pintar seperti beamforming cerdas, sistem prediksi jangkauan jaringan berbasis AI, hingga pengaturan mobilitas dan latensi yang lebih baik. Semua fitur tersebut membantu operator menyesuaikan kapasitas jaringan secara langsung sesuai kebutuhan penggunaan data.

Bagi pengguna, perkembangan ini berpotensi menghadirkan pengalaman internet yang lebih stabil. Aktivitas seperti streaming video, bermain gim di ponsel, hingga layanan digital berbasis AI dapat berjalan lebih lancar.

Selain itu operator juga berpeluang menghadirkan layanan baru dengan kualitas jaringan yang bisa disesuaikan berdasarkan kebutuhan seperti kecepatan, latensi, atau tingkat keandalan koneksi.

“Seiring dengan meningkatnya penggunaan data dan semakin kompleksnya berbagai use case, operator membutuhkan infrastruktur yang dapat berpikir, beradaptasi, dan melakukan optimalisasi secara real-time. Dengan mengintegrasikan kecerdasan ke dalam perangkat radio, antena, dan software, kami memungkinkan jaringan yang dapat memanfaatkan spektrum secara lebih efisien, meningkatkan kinerja uplink, serta pada akhirnya menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih baik,” katanya.

Menurut Wahby, konsep RAN yang sudah siap AI bukan sekadar pengembangan teknologi jaringan biasa. Ia menilai teknologi ini menjadi langkah besar dalam cara jaringan telekomunikasi dibangun dan dioperasikan agar pengembangan 5G bisa berjalan lebih efektif serta efisien dari sisi biaya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka