Jepang Siaga Energi, Perusahaan Minta Izin Kapal Asing Angkut Minyak

waktu baca 2 menit

Tokyo (KABARIN) - Perusahaan penyulingan minyak di Jepang mulai ambil langkah antisipasi di tengah situasi yang memanas di Iran. Mereka meminta pemerintah untuk mengizinkan kapal tanker berbendera asing ikut membantu distribusi minyak mentah dari cadangan nasional.

Permintaan ini muncul karena ada kekhawatiran kapasitas kapal berbendera Jepang tidak cukup untuk mengangkut volume minyak yang akan dilepas—yang disebut-sebut jadi yang terbesar sepanjang sejarah.

Biasanya, pengiriman minyak dalam negeri Jepang memang dibatasi hanya untuk kapal berbendera Jepang. Namun, ada celah kebijakan yang memungkinkan pemerintah memberikan izin khusus bagi kapal asing dalam kondisi tertentu.

“Kami perlu terlebih dahulu memastikan apakah kapal berbendera Jepang mampu menangani situasi ini, tetapi kami juga mempertimbangkan kemungkinan memberikan izin kepada kapal berbendera asing,” kata seorang pejabat kementerian.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan Jepang yang mulai melepas cadangan minyak sejak Senin (16/3). Tujuannya jelas: meredam kekhawatiran pasokan energi di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pada tahap awal, yang dilepas adalah cadangan milik sektor swasta setara 15 hari konsumsi. Selanjutnya, pemerintah juga akan melepas cadangan miliknya sendiri setara 30 hari konsumsi pada akhir bulan ini.

Secara total, Jepang berencana menggelontorkan sekitar 80 juta barel minyak ke pasar, atau setara dengan 45 hari kebutuhan domestik.

Cadangan pemerintah sendiri sebenarnya masih cukup besar, yakni setara 146 hari konsumsi nasional. Minyak ini disimpan di 10 lokasi berbeda di seluruh Jepang, termasuk di wilayah seperti Hokkaido, Akita, Fukui, dan Kagoshima.

Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan skema penjualan cadangan tersebut ke perusahaan penyulingan. Namun ada tantangan teknis yang tidak kecil, cadangan disimpan dalam bentuk minyak mentah, sehingga harus diangkut menggunakan kapal tanker besar ke kilang sebelum bisa diolah.

“Kapal konvensional tidak mampu menangani volume sebesar ini, sehingga pengamanan kapal tanker besar menjadi sangat penting. Prioritas utama kami adalah memastikan jaminan pasokan yang stabil,” kata seorang eksekutif di salah satu perusahaan penyulingan minyak besar.

Dengan situasi global yang belum pasti, langkah Jepang ini jadi sinyal bahwa negara tersebut serius menjaga stabilitas energi, bahkan jika harus membuka opsi penggunaan kapal asing demi kelancaran distribusi.

Sumber: Kyodo_OANA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka