Jakarta (KABARIN) - Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia Jakarta mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan dalam memamerkan barang mewah di media sosial.
Kebiasaan menunjukkan tas atau produk mahal dinilai bisa berdampak pada kondisi mental jika tidak disikapi dengan bijak.
"Flexing adalah pedang bermata dua. Bagi industri fesyen, ini bisa menjadi ajang promosi gratis karena meningkatkan brand awareness. Namun, jika didorong oleh gengsi semata tanpa kemampuan finansial, dampaknya bisa negatif bagi kesehatan mental konsumen," kata Ketua APPMI Jakarta Dana Duriyatna saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Ia menilai kebiasaan flexing berpotensi membuat seseorang memaksakan diri untuk tampil mewah meski kondisi keuangan tidak mendukung.
Situasi ini bisa berdampak pada kondisi finansial pribadi maupun keluarga jika terus dilakukan tanpa pertimbangan.
Di sisi lain, fenomena tersebut justru memberi keuntungan bagi industri fesyen karena dapat meningkatkan popularitas suatu merek di kalangan masyarakat.
"Namun kami lebih mendorong apresiasi terhadap karya dan kualitas, bukan sekadar pamer merek," kata Dana.
Ia juga mengingatkan bahwa momen Lebaran seharusnya identik dengan kesederhanaan dan makna kemenangan, bukan sekadar ajang menunjukkan gaya hidup.
Karena itu, masyarakat diharapkan bisa lebih bijak dalam memilih penampilan, terutama saat perayaan besar.
Menurutnya, fesyen seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan rasa percaya diri, bukan untuk mencari pengakuan sosial secara berlebihan.
Dana juga menyoroti perubahan tren di kalangan konsumen yang kini mulai beralih dari membeli barang mahal ke menyewa.
Perubahan ini dianggap sebagai tanda bahwa masyarakat semakin sadar dalam mengatur pengeluaran dan mempertimbangkan nilai guna dari suatu produk.
"Ini menunjukkan kedewasaan konsumen dalam mengelola anggaran tanpa mengorbankan penampilan," tambah dia.
Banyak orang kini memilih menyewa pakaian atau aksesori untuk kebutuhan tertentu seperti silaturahmi atau acara keluarga agar tetap tampil menarik tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Pengamatan APPMI menunjukkan bahwa produk dari desainer lokal hingga merek internasional masih diminati, terutama untuk momen spesial seperti foto keluarga atau open house.
Di sisi lain, tren sewa juga dinilai sejalan dengan konsep ekonomi berkelanjutan karena satu produk bisa digunakan oleh banyak orang.
"Hal ini secara otomatis menekan produksi berlebih dan membantu mengurangi tumpukan limbah pakaian (landfill) serta dampak mikroplastik dari proses produksi massal. Ini langkah positif menuju industri fesyen yang lebih hijau," ucap Dana.
Sumber: ANTARA