PP Muhammadiyah: Idul Fitri 1447 H Jadi Ajang Saling Menghargai Perbedaan

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang ekonomi, bisnis, dan industri halal Muhadjir Effendy menilai bahwa perbedaan dalam penetapan 1 Syawal pada Idul Fitri 1447 Hijriah seharusnya dilihat sebagai hal yang wajar sekaligus kesempatan untuk saling menghargai antarumat.

Ia menegaskan bahwa masing masing pihak memiliki dasar dan metode yang sama sama kuat dalam menentukan waktu perayaan Idul Fitri, sehingga perbedaan tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan.

"Ini yang perlu saya sampaikan. Karena masing-masing sudah punya argumen dan sama-sama kuatnya gitu. Dan itu sangat dimungkinkan," katanya setelah Shalat Idul Fitri di Sekretariat PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kantor Jakarta Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah di Jakarta, Jumat.

Muhadjir juga mengutip pesan dari ulama Muhammad Quraish Shihab yang menekankan bahwa ketika seseorang telah melihat tanda datangnya bulan Ramadhan maka sebaiknya menjalankan ibadah puasa. Ia menjelaskan bahwa istilah melihat dalam konteks tersebut juga dapat dimaknai sebagai pemahaman berbasis pengetahuan dan nalar.

Menurutnya, perbedaan yang terjadi lebih banyak berkaitan dengan metode penentuan yang digunakan, sehingga tidak perlu diperuncing.

Ia juga menyampaikan bahwa pada tahun 2026 Muhammadiyah mulai menggunakan kalender Hijriah global tunggal sebagai acuan.

Dengan sistem tersebut, penentuan awal bulan tidak hanya berdasarkan pengamatan di satu wilayah tertentu, melainkan berlaku secara global. Ia mencontohkan bahwa jika hilal terlihat di salah satu wilayah dunia seperti Alaska, maka secara prinsip hal itu dapat menjadi acuan bersama.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga sikap saling menghormati, terutama dalam momentum Idul Fitri yang identik dengan mempererat silaturahim dan kebersamaan.

Sementara itu, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fadhil Mahdi mengatakan bahwa perbedaan dalam penentuan hari raya bukanlah hal baru dan sudah sering terjadi di masyarakat.

Ia menilai kehadiran kalender Hijriah global tunggal menjadi salah satu langkah untuk menyatukan referensi waktu secara lebih luas di kalangan umat Muslim.

Menurutnya, kalender tersebut diharapkan dapat digunakan tidak hanya oleh warga Muhammadiyah, tetapi juga oleh umat Islam secara umum, baik individu maupun lembaga.

Ia menambahkan bahwa secara konsep, kalender global memungkinkan keseragaman waktu meskipun terdapat perbedaan zona waktu yang hanya terpaut beberapa jam.

Fadhil berharap ke depan umat Islam dapat memiliki acuan kalender Hijriah yang lebih seragam, sehingga penentuan bulan penting seperti Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah bisa lebih konsisten.

Terkait perayaan Lebaran, ia menyebut dirinya tetap menjalin kebersamaan dengan keluarga, termasuk mengunjungi kerabat yang merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda.

Ia juga bersyukur dapat menjalankan ibadah selama Ramadan dengan baik dan berharap pada tahun berikutnya dapat menjalankan ibadah dengan lebih optimal.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka