Pada bulan ini kami akan mencoba melakukan operasionalisasi dari sistem Earthquake Early Warning System
Jakarta (KABARIN) - Pemerintah Indonesia melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) siap melakukan uji coba sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System/EEWS yang mampu memberikan jeda waktu hingga 20 detik bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi sebelum guncangan utama terjadi.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat ditemui di Jakarta, Kamis, mengatakan uji coba tersebut akan dilakukan pada bulan ini di Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung, setelah melalui pengembangan selama satu hingga dua tahun terakhir.
"Pada bulan ini kami akan mencoba melakukan operasionalisasi dari sistem Earthquake Early Warning System," kata dia.
Dia menjelaskan sistem tersebut bekerja dengan mendeteksi gelombang primer (P-wave) yang muncul lebih cepat dibandingkan gelombang sekunder (S-wave) yang bersifat lebih merusak.
Melalui pemantauan gelombang awal tersebut, kata dia, sistem dapat memperkirakan waktu kedatangan guncangan utama sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk mengambil langkah penyelamatan.
“Bergantung pada jarak dari pusat gempa, sistem ini dapat memberikan waktu dari belasan detik hingga sekitar 20 detik sebelum guncangan kuat dirasakan,” ujarnya.
Faisal menegaskan teknologi ini tidak digunakan untuk memprediksi kapan gempa akan terjadi, melainkan memberikan peringatan saat gempa mulai berlangsung.
BMKG optimistis dalam kurun waktu singkat tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai tindakan mitigasi seperti berlindung di tempat aman, menuju titik evakuasi, hingga menghentikan aktivitas berisiko.
Adapun pengembangan sistem tersebut merupakan hasil kerja sama BMKG dengan mitra pengembang yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir dan memerlukan investasi yang cukup besar, khususnya dalam pemasangan sensor dan penguatan jaringan pemantauan.
Hal ini penting dilakukan mengingat Indonesia merupakan negara berpotensi tinggi terdampak bencana gempa bumi yang semakin diperkuat dengan adanya 13 area-area subduksi atau dikenal dengan zona-zona Megathrust.
Dengan uji coba ini, kata dia, BMKG berharap masyarakat dapat semakin memahami pentingnya respons cepat dalam menghadapi gempa, sehingga risiko korban jiwa dan kerusakan dapat diminimalkan.
Sumber: ANTARA