Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai,
Jakarta (KABARIN) - Pelaku pasar dalam negeri menilai posisi aset kripto kian menguat di tengah dinamika geopolitik global. Hal ini tercermin dari lonjakan harga Bitcoin yang naik sekitar 6 persen hingga mendekati level 75.000 dolar AS pada Senin (13/4), dipicu fenomena short squeeze besar.
Kenaikan tersebut juga dipengaruhi situasi di Selat Hormuz setelah Amerika Serikat melakukan blokade. Sebagai respons, Iran mengambil langkah tak terduga dengan mewajibkan pembayaran “tol” menggunakan Bitcoin bagi kapal tanker yang melintas.
Vice President Indodax Antony Kusuma menyebut kondisi ini tidak hanya memicu likuidasi posisi short dalam jumlah besar, tetapi juga memperkuat peran kripto dalam ekonomi modern.
"Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai," kata dia.
Menurutnya, penggunaan Bitcoin dalam transaksi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto semakin luas, tidak hanya di kalangan ritel tetapi juga dalam konteks global.
Kebijakan Iran yang menetapkan tarif setara 1 dolar AS per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan lonjakan permintaan secara instan. Sistem berbasis blockchain dimanfaatkan untuk menjaga kelancaran transaksi sekaligus menghindari sanksi internasional.
Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat yang meningkat ke level 3,3 persen turut mendorong investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif seperti Bitcoin. Kondisi ini memperkuat narasi kripto sebagai safe haven di tengah tekanan pada mata uang konvensional.
Penguatan juga terlihat pada aset kripto lain. Ethereum naik 8 persen ke level 2.380 dolar AS, Solana menguat 5,2 persen ke 86,60 dolar AS, dan BNB naik 3,2 persen ke 615,50 dolar AS.
Antony menilai perkembangan ini menandai fase baru industri kripto. Jika sebelumnya hanya dianggap sebagai aset spekulatif, kini kripto mulai berperan dalam dinamika geopolitik dan perdagangan internasional.
"Ini adalah perkembangan yang penting, karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global," katanya.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa volatilitas masih menjadi ciri utama pasar kripto. Faktor seperti kebijakan moneter, kebutuhan likuiditas, hingga rilis data ekonomi tetap berpotensi memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek.
Investor pun diimbau untuk tetap menerapkan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat.
Sumber: ANTARA