IHSG Anjlok 4 Persen, Investor Soroti Kredibilitas Kebijakan Indonesia

waktu baca 2 menit

Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia

Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Rabu ditutup melemah tajam seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tata kelola dan kredibilitas kebijakan Indonesia.

IHSG terkoreksi 254,36 poin atau 4,11 persen ke level 5.941,07. Sementara itu, indeks LQ45 juga turun 30,28 poin atau 4,89 persen ke posisi 588,99.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai pasar saat ini tidak lagi sekadar melihat potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi mulai mempertanyakan kredibilitas kebijakan yang berjalan.

“Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia,” ujar Liza di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan terdapat sejumlah sentimen negatif yang memengaruhi pasar, mulai dari kekhawatiran tata kelola dan kebijakan setelah outlook negatif dari lembaga pemeringkat, tekanan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS, hingga keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia.

Selain itu, ia juga menyoroti melemahnya kelas menengah, meningkatnya risiko komunikasi kebijakan, serta arus dana asing yang terus keluar sebagai faktor yang menekan pasar.

Menurutnya, perbandingan kinerja Indonesia dengan pasar negara berkembang lain juga menunjukkan pelemahan yang cukup tajam, di mana Indonesia tertinggal jauh dibanding Vietnam, Taiwan, hingga Amerika Serikat dalam periode yang sama.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa sejumlah indikator fundamental Indonesia masih relatif terjaga, seperti status investment grade yang masih dipertahankan, serta belum adanya penurunan peringkat dari lembaga pemeringkat utama lainnya.

Ia menambahkan bahwa sejumlah risiko yang saat ini dikhawatirkan pasar masih berupa potensi, bukan kondisi yang sudah terjadi secara resmi.

Dalam jangka pendek, pasar disebut akan menantikan sejumlah agenda penting, termasuk evaluasi indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell yang dapat memengaruhi aliran dana asing ke Indonesia.

Dari sisi perdagangan, IHSG sempat bergerak fluktuatif sepanjang hari sebelum akhirnya terpuruk di zona merah hingga penutupan.

Seluruh sektor tercatat melemah, dengan penurunan terdalam terjadi pada sektor barang baku, disusul energi dan infrastruktur.

Saham yang mencatat kenaikan terbesar antara lain WEHA, MMIX, OMRE, MSIN, dan CASA. Sementara saham yang mengalami penurunan terdalam dipimpin oleh TPIA, APIC, ARKO, GMTD, dan KJEN.

Total frekuensi perdagangan mencapai lebih dari 2,7 juta kali transaksi dengan nilai transaksi Rp25,25 triliun. Di bursa regional Asia, pergerakan indeks bervariasi dengan sebagian menguat seperti Nikkei dan Shanghai, sementara Hang Seng justru melemah.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka