Los Angeles (KABARIN) - Raksasa hiburan asal Amerika Serikat The Walt Disney Company mulai memangkas hingga sekitar 1.000 pekerjaan pada Selasa 14 April. Langkah ini menjadi salah satu kebijakan besar pertama di bawah kepemimpinan CEO baru Josh D’Amaro.
Dalam sebuah memo internal yang dikutip sejumlah media, D’Amaro menyebut perusahaan tengah menghadapi banyak perubahan dalam beberapa tahun terakhir, baik di internal perusahaan maupun industri hiburan secara global.
Ia menjelaskan bahwa Disney akan mengurangi sejumlah posisi di beberapa divisi dan sudah mulai memberi pemberitahuan kepada karyawan yang terdampak.
“Selama beberapa bulan terakhir, kami telah mencari berbagai cara untuk merampingkan kegiatan operasional di sejumlah sektor perusahaan guna memastikan kita bisa menghadirkan kreativitas dan inovasi kelas dunia yang dihargai dan diharapkan para penggemar dari Disney,” tulis D’Amaro dalam memo tersebut.
Ia juga menekankan bahwa perusahaan perlu menjadi lebih adaptif di tengah perkembangan industri yang cepat serta memanfaatkan teknologi untuk membangun tenaga kerja yang lebih efisien.
“Dengan pesatnya laju industri kita, kita perlu terus mengevaluasi bagaimana cara membina tenaga kerja yang lebih tangkas dan didukung teknologi guna memenuhi kebutuhan masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, pemutusan hubungan kerja ini merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh untuk mengelola sumber daya secara lebih efektif sekaligus mengalokasikan kembali investasi ke sektor bisnis yang lebih strategis.
Laporan Los Angeles Times menyebutkan bahwa pemangkasan ini akan berdampak pada sejumlah unit seperti studio film dan televisi Disney, jaringan olahraga ESPN, serta divisi teknologi, pemasaran, dan fungsi korporat lainnya.
Disney sendiri diketahui memiliki sekitar 230.000 karyawan di seluruh dunia pada akhir tahun lalu, sehingga PHK ini diperkirakan berdampak pada kurang dari satu persen total tenaga kerja.
Seperti banyak perusahaan hiburan lainnya, Disney kini tengah beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi penonton, termasuk pergeseran dari televisi konvensional ke layanan streaming yang dinilai memiliki margin keuntungan lebih kecil, serta tekanan dari persaingan industri dan penurunan pendapatan box office.
Sumber: Xinhua