Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,
Jakarta (KABARIN) - Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono untuk membahas peluang kerja sama di sektor pertanian, khususnya impor pupuk dari Indonesia. Pertemuan ini digelar di Kantor Kementerian Pertanian pada Rabu (15/4), di tengah situasi global yang lagi tidak stabil soal pasokan pupuk.
"Jadi saya menerima Duta Besar Australia untuk Indonesia yang ada di Jakarta. Kita bicara banyak hal, khususnya urusan pertanian dan khususnya lagi adalah terkait pupuk," kata Wamentan dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Fokus utama pembahasan adalah peluang ekspor pupuk urea dari Indonesia ke Australia. Menurut Sudaryono, kondisi geopolitik global saat ini ikut memengaruhi distribusi pupuk dunia, salah satunya karena gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Sekitar sepertiga pasokan pupuk global melewati jalur tersebut. Jadi ketika ada gangguan, dampaknya langsung terasa ke banyak negara yang akhirnya kekurangan pupuk.
“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” tutur Wamentan.
Dari sisi produksi, Indonesia punya kapasitas yang cukup besar. Pupuk urea yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) bisa mencapai sekitar 9,36 juta hingga 9,4 juta ton per tahun. Untuk 2026, target produksinya ada di angka 7,8 juta ton.
Dari jumlah itu, sekitar 6,3 juta ton akan digunakan untuk kebutuhan subsidi dalam negeri, sementara sisanya sekitar 1,5 juta ton berpotensi diekspor, termasuk ke Australia.
Meski peluang ekspor terbuka lebar, pemerintah tetap menegaskan bahwa kebutuhan petani dalam negeri jadi prioritas utama.
"Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor,” tegasnya.
Menariknya, minat terhadap pupuk urea Indonesia ternyata bukan cuma dari Australia. Sejumlah negara lain seperti India, Filipina, dan Brasil juga menunjukkan ketertarikan. Namun, pemerintah tetap berhitung agar tidak overcommit dalam memenuhi permintaan global.
Di sisi lain, hubungan dagang pupuk antara Indonesia dan Australia juga berjalan dua arah. Indonesia mengekspor urea, tapi juga mengimpor bahan baku seperti fosfat, termasuk jenis DAP (Diammonium Phosphate), dari Australia.
“Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat,” ujar Sudaryono.
Soal ketersediaan pupuk di dalam negeri, Wamentan memastikan kondisinya masih aman, terutama untuk pupuk subsidi. Tingginya serapan pupuk oleh petani justru jadi tanda bahwa aktivitas tanam sedang meningkat.
“Kalau ada petani yang tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam 1–2 hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya pupuk ada dan cukup,” jelasnya.
Ke depan, pemerintah juga berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk yang sudah berusia tua. Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan efisiensi sekaligus menambah kapasitas produksi nasional.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak cuma bisa menjaga ketahanan pupuk dalam negeri, tapi juga punya peluang besar untuk jadi pemain penting di pasar pupuk global.
Sumber: ANTARA