Jakarta (KABARIN) - Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu mengambil langkah konkret dan terintegrasi dalam menangani ikan sapu-sapu di perairan ibu kota.
Menurut dia, penanganan tidak cukup hanya melalui penangkapan massal, tetapi juga harus disertai upaya perbaikan kualitas air.
"Kita butuh solusi yang tidak hanya reaktif, tapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat, tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan kesehatan," kata Kenneth di Jakarta, Senin.
Ia menyebut maraknya ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus menjadi indikator kerusakan ekosistem perairan. Spesies invasif tersebut diketahui mampu berkembang pesat di lingkungan tercemar, yang mencerminkan kualitas air sungai di Jakarta masih rendah.
Kenneth menekankan pentingnya pengendalian limbah domestik dan industri, peningkatan sanitasi, serta edukasi masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.
Selain itu, ia membuka peluang pendekatan inovatif, seperti pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi produk bernilai ekonomi dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan dan keberlanjutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok mengatakan penangkapan massal saat ini masih menjadi langkah jangka pendek untuk menekan populasi ikan tersebut.
"Sebagai langkah penanganan awal, kami melakukan operasi penangkapan massal. Hasil tangkapan ditangani dengan cara dikubur dalam kondisi mati untuk mencegah dampak lanjutan terhadap lingkungan," ujarnya.
Ia menambahkan pendekatan berbasis riset juga mulai dilakukan. Sebanyak 1.000 kilogram ikan sapu-sapu dari kawasan Setu Babakan dimanfaatkan sebagai bahan penelitian oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Penelitian tersebut difokuskan pada pengembangan media kultur maggot sebagai solusi pengelolaan limbah organik sekaligus alternatif pakan bernilai ekonomi.
"Ini menjadi salah satu upaya agar penanganan tidak hanya bersifat penanggulangan, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui riset dan inovasi," kata Hasudungan.
Sumber: ANTARA