Jakarta (KABARIN) - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa anak-anak dan perempuan kerap menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban radikalisme dalam pemahaman keagamaan.
Pernyataan itu disampaikan dalam Peluncuran Program Kerja Sama Pemerintah Indonesia dan UNICEF Periode 2026–2030 di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin.
“Jangan sampai nanti kita terjebak di dalam apa yang biasa kita pahami sebagai radikalisme keberagamaan ini. Seringkali kalau terjadi radikalisme pemahaman keagamaan, yang paling pertama korban itu anak-anak dan perempuan,” ujar Nasaruddin.
Ia menjelaskan, dalam sejumlah kasus, anak-anak pernah dieksploitasi untuk terlibat dalam tindakan kekerasan atau dipaksa menjalani peran di luar kapasitas usianya, sehingga kehilangan masa depan dan hak-haknya.
Selain itu, menurutnya, ada pula kondisi ketika anak-anak tidak diperbolehkan mengakses pendidikan umum karena dianggap tidak sesuai dengan pandangan tertentu. Hal tersebut dinilai dapat merugikan perkembangan anak secara menyeluruh.
“Banyak sekali kita jumpai eksploitasi anak yang melampaui daya dukungnya… jadi bukan hanya radikalisme, tapi liberalisme pun juga memiliki potensi yang sama,” kata dia.
Dalam kesempatan tersebut juga diluncurkan Country Program Action Plan (CPAP) 2026–2030 antara Indonesia dan UNICEF yang telah berjalan selama 60 tahun dan kini memasuki siklus kerja sama ke-13.
Program ini disusun dengan mengacu pada RPJMN 2025–2029, visi pembangunan nasional, serta komitmen internasional seperti Konvensi Hak Anak. Fokus kerja sama mencakup gizi, kesehatan, pendidikan, perlindungan anak, hingga kebijakan sosial.
Sejumlah capaian sebelumnya antara lain distribusi 77 juta dosis vaksin COVID-19, pembentukan pusat keunggulan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta perlindungan ratusan ribu anak dari risiko putus sekolah.
Menag menegaskan pentingnya pendekatan berbasis nilai agama dalam upaya perlindungan anak agar program lebih efektif dan dapat diterima masyarakat.
“Dengan demikian, menggunakan bahasa agama untuk program ini sangat penting. Tanpa itu, dikhawatirkan tidak akan efektif,” ujarnya.
Sumber: ANTARA