Washington DC (KABARIN) - Pemerintahan Amerika Serikat dilaporkan khawatir terhadap dampak politik jika harga bensin di negara itu naik melampaui 3 dolar AS per galon atau sekitar Rp51.300.
Media Politico, Senin, mengutip sumber yang dekat dengan Gedung Putih menyebutkan bahwa kenaikan harga bahan bakar dapat menjadi isu sensitif menjelang musim politik.
“Jika kita tidak melihat harga bensin 3 dolar per galon, kita akan terpukul,” ujar sumber tersebut, dikutip Politico.
Menurut laporan itu, para penasihat ekonomi dan strategi politik di lingkaran pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mencermati pergerakan harga energi yang diperkirakan akan terpengaruh oleh dinamika geopolitik global.
Sebelumnya, Trump juga menanggapi pernyataan Menteri Energi Chris Wright yang menyebut harga bensin tidak akan kembali turun ke level sebelum konflik Iran dalam waktu dekat. Trump menyatakan bahwa harga akan turun “segera setelah ini berakhir”.
Ketegangan di Timur Tengah disebut menjadi salah satu faktor utama tekanan harga energi, terutama setelah eskalasi konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu.
Situasi tersebut sempat mengganggu jalur perdagangan energi global, termasuk di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting distribusi minyak dan gas dunia. Kondisi itu turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di pasar internasional.
Meski sempat terjadi kesepakatan gencatan senjata sementara pada April, pembicaraan lanjutan dilaporkan belum menghasilkan kesepakatan final, sementara ketidakpastian masih membayangi pasar energi global.
Sumber: Sputnik_OANA