Di Tengah Keterbatasan, Peserta Difabel Tetap Gigih Ikut UTBK di Unej

waktu baca 5 menit

Jember, Jawa Timur (KABARIN) - Petugas dengan ramah menyapa peserta disabilitas yang mengikuti ujian tulis berbasis komputer (UTBK) pada Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Jember, Jawa Timur.

Ada tiga peserta penyandang disabilitas yang mengikuti UTBK SNBT 2026 pada hari pertama pelaksanaan ujian serentak pada Selasa (21/4) sesi pagi, yakni Yogi Ardiansyah (disabilitas daksa), Muhammad Derbian Dwi Putra (disabilitas daksa), dan Carissa Vania Artamevira (disabilitas rungu).

Panitia UTBK SNBT Universitas Jember (Unej) sengaja menempatkan ketiga peserta difabel di Gedung LPMPP karena gedung tersebut memiliki fasilitas lift untuk memudahkan peserta berkebutuhan khusus menuju lokasi ruangan ujian di lantai 3.

Selain itu, LPMPP kampus negeri tersebut juga memiliki pusat layanan konseling dan difabel yang siap membantu peserta difabel apabila ada hal yang diperlukan dan sewaktu-waktu dibutuhkan oleh peserta disabilitas.

Kursi roda juga sudah disediakan untuk dua peserta disabilitas daksa, namun hanya satu peserta yang menggunakan kursi roda untuk menuju menuju ruangan UTBK dibantu petugas. Saat di ruangan UTBK, tiga peserta difabel membaur dengan peserta lainnya.

Tidak ada fasilitas tambahan bagi tiga peserta berkebutuhan khusus tersebut karena mereka sudah bisa mengerjakan dengan nyaman seperti peserta lainnya.

Ketua Panitia UTBK SNBT Unej Prof Slamin mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang guna memastikan peserta penyandang disabilitas dapat mengikuti ujian dengan nyaman. Mulai dari pengaturan ruang ujian, pendampingan petugas, hingga aksesibilitas menuju lokasi ujian.

Sebanyak 13.311 peserta mengikuti UTBK SNBT di Universitas Jember yang digelar pada 21-30 April 2026 dan panitia menyiapkan sebanyak 955 komputer yang ada di 31 ruangan tersebar di 20 lokasi di kampus setempat, dengan dua sesi setiap harinya.

Ketiga peserta disabilitas mengaku tidak menemui kendala teknis selama ujian berlangsung, bahkan mereka bersyukur karena Unej menyediakan pelayanan terbaiknya. Dari sisi fasilitas, peserta disabilitas menilai lingkungan ujian sangat mendukung kenyamanan peserta.

Hal tersebut diakui oleh Yogi yang mengalami kelainan tulang belakang karena tubuhnya kurang stabil saat berjalan, sehingga petugas dengan sigap mengantarnya ke ruang ujian dengan menggunakan kursi roda.

Petugas yang disiagakan panitia dinilai sangat cekatan dan sigap membantu peserta penyandang disabilitas sejak awal kedatangan, bahkan mobilitas seperti kursi roda juga dibantu dan dituntun, sehingga sangat membantu untuk peserta yang membutuhkan pendampingan.

Yogi mengaku tidak ada kendala selama mengerjakan soal UTBK dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, namun sempat kesulitan menjawab beberapa soal UTBK pada bagian penalaran matematika.

Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknologi Informasi Unej, bahkan pelajar asal Desa Kemuninglor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, itu memiliki cita-cita menjadi dosen IT, terinspirasi dari para dosen Unej.

Saat mengerjakan ujian dan berada di dalam ruangan transit bersama peserta lainnya, ia mengaku tidak minder dengan peserta lainnya yang memiliki fisik sempurna karena sebelumnya ia juga bersekolah di sekolah umum, yakni sekolah menengah kejuruan (SMK), bukan di sekolah luar biasa (SLB).

Tekadnya yang kuat untuk melanjutkan jenjang pendidikan di bangku kuliah juga dimotivasi oleh sejumlah dosen Unej yang aktif memotivasi generasi muda untuk mengejar cita-cita setinggi langit melalui media sosial (medsos).

Semangat membara untuk berkuliah juga ditunjukkan oleh peserta disabilitas daksa lainnya, Muhammad Derbian Dwi Putra yang merupakan pelajar dari Kecamatan Maesan di Kabupaten Bondowoso.

Lokasi ujian yang cukup jauh dari tempat tinggalnya atau di kabupaten tetangga, mengharuskan pelajar yang akrab disapa Derbian itu berangkat lebih pagi dibandingkan peserta yang berdomisili di Kabupaten Jember.

Usai menjalankan shalat subuh, alumni SMKN 1 Bondowoso itu dengan tekad kuat bersiap menuju kampus Universitas Jember dengan diantar ibunya menggunakan sepeda motor dan rela melawan rasa dingin sepanjang perjalanan sejauh 20 kilometer.

Derbian merasa percaya diri mampu mengerjakan dengan baik soal-soal UTBK yang dihadapi, sehingga berharap lolos menjadi mahasiswa di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unej.

Ketertarikannya pada dunia kepenulisan menjadi alasan utama untuk masuk di program studi tersebut, terlebih ia mengidolakan penulis novel Tere Liye dan Derbian pun bercita-cita menjadi sosok penulis hebat yang bisa menghasilkan banyak buku di masa depan.

Derbian memberikan ucapan motivasi bagi peserta penyandang disabilitas lainnya yang harus bersaing dengan ratusan ribu peserta SNBT se-Indonesia untuk tetap semangat dan terus berusaha keras agar bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN), sesuai cita-citanya.

"Jangan ragu untuk mencoba. Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin, siapa tahu bisa berhasil dan meraih apa yang diimpikan," katanya.

Sementera itu, satu peserta difabel tuna rungu, Carissa Vania Artamevira juga menggunakan alat bantu pendengaran saat mengikuti UTBK SNBT agar bisa mendengarkan arahan pengawas ujian karena keterbatasan pada pendengarannya.

Pengawas tetap memeriksa alat bantu yang digunakan peserta tunarungu tersebut di ruang transit, dengan menggunakan metal detector, sebelum yang bersangkutan masuk ke ruang ujian karena semua peserta dilarang membawa benda apapun ke ruang ujian.

Setelah dipastikan alat bantu tersebut hanya untuk membantu peserta dalam hal mendengar karena keterbatasan pendengarannya, maka pengawas mempersilakan peserta disabilitas rungu itu tetap menggunakan alat bantu di telinganya.

Saat pengawas membacakan tata tertib dan arahan, sesuai standar operasional prosedur (SOP) sebelum mengerjakan ujian, Carissa terlihat seperti belum memahami arahan yang disampaikan secara lisan, sehingga pengawas memberikan catatan tersebut agar peserta disabilitas rungu membacanya dengan jelas.

Carissa yang merupakan pelajar asal Jember itu menghadapi tantangan saat mengerjakan soal pengetahuan kuantitatif pada soal UTBK SNBT, namun ia tetap berusaha menyelesaikan ujian dengan maksimal karena ingin melanjutkan studi di bidang psikologi dan berharap impiannya juga terwujud.

Dengan tekad dan kegigihan mengikuti UTBK dengan keterbatasan fisik, ketiga peserta disabilitas, Yogi, Derbian, dan Carissa, menunjukkan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk tetap bermimpi dan berjuang.

Kehadiran mereka dalam UTBK SNBT di Unej menjadi cerminan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi tekad untuk terus melangkah maju meraih cita-cita.

Optimisme yang mereka tunjukkan tidak hanya memberi semangat bagi diri mereka sendiri, tetapi juga mengingatkan pentingnya pendidikan yang inklusif, terbuka dan ramah bagi semua kalangan.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka