Rano Karno Minta Evaluasi Perlintasan Kereta Api di Jakarta untuk Cegah Kecelakaan

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap perlintasan sebidang kereta api di Jakarta untuk mencegah terulangnya kecelakaan seperti yang terjadi di Bekasi Timur pada Senin (27/4).

Ia menyebut masih terdapat sejumlah perlintasan sebidang di Jakarta yang tidak memiliki palang pintu, meski sudah dijaga petugas di lokasi.

"Jakarta memang ada beberapa lintasan yang mungkin tidak tertutup, tapi minimal ada yang jaga. Tetapi, ini bagian yang harus kami evaluasi. Mudah-mudahan, tidak terjadi lagi kecelakaan," kata Rano di Jakarta, Rabu.

Sementara itu, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Afan Adriansyah menyampaikan bahwa Pemprov DKI saat ini tengah membangun sejumlah flyover untuk mengurangi titik rawan di perlintasan kereta.

"Ini adalah (proyek menggunakan anggaran) multiyears (tahun jamak) yang dilakukan oleh Dinas Bina Marga, dan sudah dimulai pada akhir tahun 2025, dan akan dituntaskan pada tahun ini," ujar Afan.

Selain di Jalan Latumenten, pembangunan flyover juga dilakukan di kawasan Bintaro Puspita yang telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Flyover Latumenten dibangun di sisi timur dan barat jalan dengan panjang masing-masing 440,86 meter dan 439,23 meter, serta lebar Right of Way (ROW) 11 meter dan 10 meter.

Sementara flyover Bintaro Puspita memiliki panjang sekitar 441 meter dengan ROW 9 meter, yang ditujukan untuk mengurangi kemacetan sekaligus meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang.

Pembangunan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menata ulang perlintasan kereta api, termasuk menghapus perlintasan liar yang dinilai berisiko tinggi.

Di sisi lain, PT KAI Daop 1 Jakarta telah menutup 40 titik perlintasan liar sepanjang 2025 sebagai bagian dari upaya menekan angka kecelakaan.

KAI mencatat sepanjang Januari hingga Desember 2025 terjadi 237 insiden tabrakan yang melibatkan kereta api, orang, dan hewan, dengan rincian 55 kasus melibatkan kendaraan, 177 kasus melibatkan orang, dan sisanya melibatkan hewan.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka