Jakarta (KABARIN) - Ahli otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap sejumlah faktor yang diduga dapat memicu kecelakaan antara kereta api dan kendaraan bermotor, menyusul dua insiden dalam sepekan terakhir yang menelan korban jiwa di Bekasi, Jawa Barat, dan Grobogan, Jawa Tengah.
Kecelakaan pertama yang terjadi di Bekasi pada 27 April 2026 menyebabkan sedikitnya tujuh orang meninggal dunia, sementara insiden serupa di Grobogan pada 1 Mei 2026 menewaskan empat orang.
Ahli otomotif ITB, Agus Purwadi, menjelaskan bahwa kecelakaan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknis dan perilaku pengemudi.
Ia menyebut, meskipun jarang terjadi, gangguan medan elektromagnetik dari jalur kereta listrik berpotensi memengaruhi sistem elektronik kendaraan, termasuk Electronic Control Unit (ECU) pada mobil berbahan bakar maupun kendaraan listrik.
“Kalau potensi pengaruh gangguan medan magnetik yang ada jalur KA listrik bisa (terjadi) pada mobil EV ataupun pada ECU di mobil BBM,” katanya.
Selain faktor teknis, Agus juga menyoroti aspek psikologis pengemudi, terutama kepanikan saat melintasi perlintasan sebidang yang berpotensi mengganggu pengambilan keputusan.
Sementara itu, pakar otomotif ITB lainnya, Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa masalah infrastruktur perlintasan kereta api masih menjadi salah satu faktor risiko utama.
Menurutnya, banyak perlintasan yang memiliki desain kurang ideal, seperti permukaan tidak rata dan elevasi rel yang tinggi, sehingga memaksa kendaraan menurunkan kecepatan secara drastis.
“Situasi ini meningkatkan risiko kendaraan mogok di tengah rel, yang bisa terjadi karena kehilangan momentum, penurunan RPM mesin secara tiba-tiba, serta potensi gangguan pada sistem elektronik kendaraan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kendaraan berbahan bakar konvensional sangat bergantung pada stabilitas putaran mesin (RPM), sehingga penurunan mendadak dapat menyebabkan mesin mati, terutama jika pengemudi tidak sigap.
Selain faktor teknis, Yannes menegaskan bahwa kesalahan manusia masih menjadi penyebab dominan kecelakaan di perlintasan sebidang, seperti kurangnya kewaspadaan dan kepanikan saat memilih gigi kendaraan.
“Seperti kurang waspada saat melewati perlintasan kereta api tersebut, dan tidak menyadari sudah ada kereta yang mendekat, lalu jadi salah memilih gigi akibat panik saat melintas tanpa memperhatikan sering menjadi pemicu utama,” jelasnya.
Ia menekankan perlunya perbaikan infrastruktur perlintasan serta peningkatan disiplin dan kesadaran pengendara untuk mematuhi aturan demi menekan risiko kecelakaan di jalur kereta api sebidang.
Sumber: ANTARA