Jakarta (KABARIN) - Penggunaan media sosial secara berlebihan telah dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi pada anak maupun remaja.
Dalam artikelnya di Psychology Today pada Rabu (6/5), penulis buku dan pelatih psikologi positif Diane Dreher, Ph.D menyampaikan bahwa perkembangan emosional dan intelektual anak bisa terganggu kalau mereka lebih banyak menggunakan media sosial alih-alih melakukan interaksi tatap muka, bermain, dan bercakap dengan teman.
Dreher merekomendasikan beberapa tips untuk menghindarkan anak dan remaja dari dampak buruk penggunaan platform media sosial secara berlebihan.
Menurut dia, meluangkan waktu untuk saling mendengarkan, makan malam tanpa perangkat elektronik, dan berbagi cerita tentang aktivitas sehari-hari bisa mempererat hubungan orang tua dengan anak.
Hasil survei tentang penggunaan media sosial dan gawai pada remaja menunjukkan bahwa remaja akan merasa dipahami kalau orang tua berinteraksi dan berfokus pada koneksi yang autentik.
Kondisi yang demikian meningkatkan kemungkinan remaja untuk mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh orang tua berkenaan dengan penggunaan gawai dan media sosial.
Dreher juga menyarankan orang tua untuk membacakan buku kepada anak atau memberi mereka alternatif seperti buku audio untuk meningkatkan kemampuan imajinatif dan memperluas perspektif mereka.
Orang tua juga disarankan mendorong anak-anak untuk bermain dan terlibat dalam kegiatan kreatif seperti menggambar, melukis, atau memainkan alat musik.
Penelitian baru menunjukkan bahwa permainan aktif bukan hanya aktivitas rekreasi, tetapi pilar fundamental bagi perkembangan anak usia dini.
Bermain membantu anak-anak mengembangkan kemampuan kognitif, kekuatan sosial, ketahanan emosional, dan kesejahteraan fisik mereka.
Psikolog Jonathan Haidt menyarankan peningkatan batas usia minimum penggunaan internet menjadi 16 tahun guna melindungi otak anak dari paparan stimulus digital yang adiktif.
Di samping itu, pelarangan penggunaan ponsel dalam kegiatan di sekolah dinilai dapat membantu meningkatkan kesehatan mental siswa serta capaian akademik mereka.
Satu sekolah di Colorado, Amerika Serikat, mencatat penurunan kasus perundungan siber dan peningkatan performa akademik setelah melarang penggunaan ponsel di lingkungan sekolah.
Sumber: psychologytoday