Pakistan Izinin Pesawat Militer Iran Parkir di Lapangan Udaranya

waktu baca 2 menit

Washington (KABARIN) - Pakistan kasih izin pesawat militer Iran berada di lapangan udaranya meskipun negara dengan Ibu Kota Islamabad itu berperan sebagai mediator dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran, menurut laporan CBS News, Senin (11/5), yang mengutip pejabat AS.

Tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata, Iran dilaporkan mengirim beberapa pesawat, termasuk pesawat RC-130 Angkatan Udara yang merupakan varian intelijen dan pengawasan dari pesawat angkut taktis Lockheed C-130 Hercules, ke Pangkalan Udara Nur Khan Pakistan, dekat kota Rawalpindi.

Pengerahan pesawat itu kemungkinan untuk bertahan melawan serangan AS.

Namun demikian, seorang pejabat senior Pakistan membantah klaim tersebut dan mengatakan kepada CBS News bahwa pangkalan Nur Khan berada tepat di jantung kota dan sebagian besar pesawat yang diparkir di sana tidak mungkin disembunyikan dari pandangan publik.

Iran juga mengirim pesawat sipil untuk ditempatkan di Afghanistan, menurut dua pejabat lain kepada CBS News.

Sebuah pesawat sipil Mahan Air mendarat di Kabul sesaat sebelum konflik dimulai, kata seorang petugas penerbangan sipil Afghanistan. Setelah Iran menutup wilayah udaranya, pesawat tersebut tetap berada di bandara Kabul.

Namun, ketika ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan meningkat pada Maret, otoritas penerbangan sipil Taliban memindahkan pesawat tersebut ke Bandara Herat, yang terletak di dekat perbatasan Iran, karena alasan keamanan. Menurut petugas tersebut, itu adalah satu-satunya pesawat Iran yang tersisa di Afghanistan.

Pada saat yang sama, juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, membantah keberadaan pesawat Iran di negara itu.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Kemudian, 7 April, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dan dilanjutkan dengan negosiasi di Islamabad yang berakhir tanpa hasil.

Trump pun lalu memperpanjang gencatan senjata guna memberi waktu bagi Iran untuk mengajukan "proposal terpadu".

Eskalasi ketegangan itu hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar.

Pada 3 Mei, Trump mengumumkan operasi "Project Freedom" untuk membantu kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuz melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, dua hari setelahnya, Trump memutuskan untuk menghentikan sementara operasi tersebut guna melihat apakah kesepakatan damai dengan Iran dapat tercapai.

Baca juga: Iran Minta Perang Diakhiri, Trump Langsung Ngamuk Balas Proposalnya

Baca juga: Iran Eksekusi Mati Orang yang Kerja Sama dengan CIA dan Mossad

Sumber: SPU

Bagikan

Mungkin Kamu Suka