Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 (persen) di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah, terutama adalah Selat Hormuz, ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia,
Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa siang. Hingga pukul 11.47 WIB, rupiah melemah 89 poin atau sekitar 0,51 persen ke posisi Rp17.503 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu memanasnya situasi di Selat Hormuz yang sampai sekarang masih belum mereda.
“Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump (Presiden AS Donald Trump),” kata Ibrahim dalam rekaman suara di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat menolak proposal perdamaian yang diajukan Iran. Kondisi tersebut memicu munculnya serangan-serangan kecil antar kapal di kawasan Selat Hormuz.
Ibrahim juga menyinggung keterlibatan Uni Emirat Arab (UEA) yang disebut ikut menyerang kilang minyak di Pulau Lavan, Iran.
“Jadi Uni Emirat Arab sampai saat ini pun juga terus melakukan penyerangan, walaupun tidak di-expose secara internasional. Ini mengindikasikan bahwa Uni Emirate Arab pun juga setelah keluar dari negara-negara anggota OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) terus melakukan penyerangan, bisa saja di belakangnya itu adalah Amerika,” ungkap dia.
Konflik di Timur Tengah tersebut dinilai membuat indeks dolar AS menguat cukup signifikan. Dampaknya, harga minyak mentah dunia, terutama brent crude oil, ikut mengalami kenaikan.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen belum cukup kuat untuk menopang rupiah.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi masih lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, sementara kontribusi investasi dinilai masih kecil.
“Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 (persen) di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah, terutama adalah Selat Hormuz, ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, kondisi ketenagakerjaan juga menjadi perhatian pasar. Ibrahim menyebut selama Januari hingga April 2026 sudah ada sekitar 40 ribu pekerja sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan elektronik yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dia bahkan memprediksi angka PHK masih bisa bertambah dalam beberapa bulan mendatang.
Sentimen negatif lainnya datang dari tingginya jumlah pekerja sektor nonformal di Indonesia yang mencapai 87,74 juta orang, lebih besar dibanding pekerja formal.
Pasar juga sedang menunggu hasil evaluasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang disebut berpotensi menurunkan peringkat saham Indonesia.
Meski rupiah diperkirakan masih tertekan, Ibrahim menilai pelemahannya kemungkinan tidak akan menembus level Rp17.550 per dolar AS dalam waktu dekat.
Baca juga: Harga Emas Antam Meroket Rp40.000 Jadi Rp2,859 Juta/gr Selasa Pagi Ini
Sumber: ANTARA