saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI diperkirakan tetap menjadi penopang utama
Jakarta (KABARIN) - Pengamat pasar modal dari Panin Sekuritas Reydi Octa menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami volatilitas menjelang pengumuman hasil peninjauan indeks global MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Mei 2026 waktu setempat.
“Menjelang pengumuman MSCI, IHSG berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan wait and see karena investor asing masih mencermati isu free float, HSC, dan arah rebalancing saham Indonesia,” kata Reydi di Jakarta, Selasa.
Pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG tercatat melemah 1,43 persen ke posisi 6.807,13.
Reydi mengatakan arah laju IHSG usai pengumuman MSCI akan sangat ditentukan oleh hasil akhir dari peninjauan indeks tersebut.
Menurut dia, apabila tidak ada pengurangan bobot yang signifikan terhadap saham-saham Indonesia, pasar berpeluang mengalami technical rebound.
Sebaliknya, jika hasil tinjauan MSCI memunculkan sentimen negatif, tekanan jual dari investor asing diperkirakan kembali meningkat dalam jangka pendek.
Ia menjelaskan emiten yang paling berisiko terdampak merupakan saham dengan free float rendah, tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi, serta likuiditas yang menjadi sorotan MSCI.
Pasar, lanjut Reydi, saat ini menaruh perhatian pada sejumlah saham seperti AMMN, BREN, DSSA, dan CUAN, di samping saham-saham berkapitalisasi besar lain yang berpotensi mengalami penyesuaian bobot dalam indeks.
"Sementara saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI diperkirakan tetap menjadi penopang utama MSCI Indonesia," jelas Reydi.
Adapun pengumuman MSCI Index Review periode Mei 2026 dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 12 Mei 2026 waktu New York atau Rabu, 13 Mei 2026 waktu Indonesia.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI akan menyampaikan hasil rebalancing berbagai indeks globalnya, termasuk daftar saham Indonesia yang masuk (additions) maupun keluar (deletions) dari indeks.
Untuk peninjauan Mei 2026, MSCI menerapkan aturan yang lebih ketat terkait High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi.
Kebijakan itu dinilai berdampak pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di Indonesia yang terancam dikeluarkan dari indeks karena dianggap memiliki jumlah saham beredar atau free float yang terbatas.
Sumber: ANTARA