Rupiah Tembus Rp17.500, Ekonom Ungkap Tekanan Datang dari Global dan Domestik

waktu baca 2 menit

rentetan risiko global ditambah lagi ada penilaian ataupun peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia, sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif

Jakarta (KABARIN) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah yang sempat menembus level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa dipicu kombinasi tekanan dari luar negeri dan dalam negeri.

Menurut Josua, kondisi ini membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berdenominasi rupiah.

Dari sisi global, ia menyebut kenaikan harga minyak dunia serta penguatan dolar AS menjadi faktor utama tekanan. Situasi ini dipicu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

“Dua faktor tersebut efeknya terhadap ekonomi kita relatif cenderung lebih besar dibandingkan mungkin dengan negara-negara lain. Sehingga dampaknya pun relatif lebih cepat terhadap nilai tukar rupiah kita,” ujar Josua dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026, Selasa.

Indonesia yang masih bergantung pada impor energi disebut lebih rentan terhadap lonjakan harga minyak, sehingga berdampak pada stabilitas rupiah dan arus modal asing.

Kenaikan harga minyak juga dikhawatirkan menambah beban impor dan menekan kondisi fiskal, sementara penguatan dolar AS mendorong keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.

Dari dalam negeri, tekanan tambahan datang dari penantian hasil MSCI Index Review periode Mei 2026 yang akan diumumkan pada Selasa waktu New York atau Rabu waktu Indonesia.

MSCI Inc. disebut akan mengevaluasi saham-saham Indonesia dalam indeks global dengan kriteria yang lebih ketat terkait High Shareholding Concentration atau HSC.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi saham berkapitalisasi besar di Indonesia yang memiliki porsi saham publik terbatas.

Selain itu, penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody's Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun juga ikut menekan sentimen investor global.

Josua menyebut seluruh faktor tersebut membuat minat risiko investor terhadap aset Indonesia, termasuk rupiah, ikut melemah.

Meski begitu, ia menegaskan kondisi saat ini berbeda jauh dari krisis 1997–1998. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat dengan cadangan devisa dan posisi utang yang lebih terjaga.

Ia juga menilai rupiah saat ini masih berada dalam kondisi undervalued atau lebih lemah dari nilai wajarnya, sehingga tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek.

Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global serta kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. Josua juga memperkirakan ruang penurunan suku bunga akan terbatas karena fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka