Kuba Bantah Ancam AS dengan Drone Militer, Sebut Hak Bela Diri

waktu baca 3 menit

Istanbul (KABARIN) - Kedutaan Besar Kuba di Amerika Serikat buka suara setelah muncul laporan intelijen AS yang menuding Havana memiliki ratusan drone militer dan diduga membahas rencana serangan terhadap target Amerika.

Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial X pada Minggu (17/5), pihak kedutaan menegaskan Kuba punya hak untuk mempertahankan diri dari ancaman luar.

"Seperti negara mana pun, Kuba memiliki hak untuk membela diri terhadap agresi asing," kata kedutaan dalam pernyataan yang diunggah di akun media sosial X.

"Ini disebut membela diri dan dilindungi oleh hukum internasional dan Piagam PBB," kata pernyataan itu.

Kedutaan Kuba juga menuding sejumlah pihak di AS sengaja membesar-besarkan kemampuan pertahanan negaranya demi menciptakan narasi negatif terhadap Havana.

"Mereka dari AS yang berupaya menundukkan dan, pada kenyataannya, menghancurkan bangsa Kuba melalui agresi militer dan perang tidak menyia-nyiakan satu momen pun untuk membuat dalih, menciptakan dan menyebarkan kebohongan, dan memutarbalikkan sebagai hal yang luar biasa persiapan logis yang diperlukan untuk menghadapi potensi agresi," tambahnya.

Meski mengeluarkan pernyataan keras, Kedutaan Kuba tidak menjelaskan secara spesifik apa yang menjadi pemicu utama respons tersebut.

Sebelumnya, media berbasis di AS, Axios, melaporkan bahwa Kuba diduga telah memperoleh lebih dari 300 drone militer berdasarkan penilaian intelijen AS yang disebut masih rahasia dan belum diverifikasi.

Laporan itu juga menyebut para pejabat intelijen AS menduga target potensial yang sempat dibahas meliputi pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo, kapal perang AS, hingga kemungkinan wilayah Key West, Florida.

Meski begitu, pejabat AS disebut tidak percaya Kuba sedang menyiapkan serangan dalam waktu dekat. Namun, isu tersebut diklaim memicu kekhawatiran di pemerintahan Donald Trump terkait hubungan militer Kuba dengan Rusia dan Iran, ditambah meningkatnya penggunaan drone dalam konflik modern.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez juga ikut menanggapi tuduhan tersebut lewat unggahan terpisah di X.

Menurut Rodriguez, pemerintah AS sedang membangun “kasus palsu” untuk membenarkan tekanan ekonomi hingga kemungkinan agresi terhadap Kuba.

"Tanpa alasan yang sah, pemerintah AS, hari demi hari, membangun kasus palsu untuk membenarkan perang ekonomi yang kejam terhadap rakyat Kuba dan agresi militer yang akan terjadi," tulis Rodriguez.

Dia juga menuding sejumlah media ikut memperkuat narasi yang dianggap sebagai fitnah terhadap Kuba.

"Kuba tidak mengancam atau menginginkan perang. Kuba membela perdamaian dan mempersiapkan diri untuk menghadapi agresi eksternal dengan menjalankan hak yang sah untuk membela diri yang diakui oleh Piagam PBB," tambahnya.

Sumber: ANAD

Bagikan

Mungkin Kamu Suka