Mendikdasmen Resmi Berangkatkan Ribuan Alumni SMK Berkerja di Luar Negeri

waktu baca 3 menit

Surabaya (KABARIN) - Menteri Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti melepas ribuan lulusan SMK dan lembaga kursus untuk bekerja ke luar negeri dalam acara di Surabaya, Rabu. Dalam kesempatan itu, pemerintah juga meluncurkan program SMK 3+1 untuk memperkuat kesiapan kerja lulusan vokasi.

“Programnya ada dua. Pertama, pelepasan lulusan SMK dan kursus untuk bekerja di luar negeri. Ada lebih dari 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan kursus yang kami lepas untuk bekerja di beberapa negara,” ujar Abdul Mu’ti.

Selain pelepasan tenaga kerja, Kemendikdasmen juga memperkenalkan program SMK 3+1 yang dirancang agar lulusan lebih siap masuk dunia kerja, baik di Indonesia maupun luar negeri.

“Mereka belajar di SMK selama tiga tahun, kemudian ditambah satu tahun untuk penyiapan masuk dunia kerja melalui kemitraan dengan perusahaan maupun berbagai agensi di dalam dan luar negeri,” katanya.

Menurut Abdul Mu’ti, program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden agar lulusan SMK memiliki kesiapan kerja yang lebih matang.

Sebagai bentuk dukungan, pemerintah juga mulai menjalankan pelatihan bahasa asing di sejumlah sekolah vokasi.

“Tadi malam di Tangerang kami juga meresmikan program pelatihan bahasa untuk 136 SMK di Indonesia agar para siswa memiliki kemampuan bahasa asing dan siap bekerja di luar negeri,” ujarnya.

Ia mengatakan para peserta yang diberangkatkan sudah dibekali kemampuan bahasa, pemahaman budaya, hingga pengetahuan soal aturan hukum negara tujuan kerja.

“Kami juga mendampingi kesiapan keimigrasian mereka, termasuk pengurusan paspor, visa, dan kelengkapan dokumen lainnya agar tidak mengalami kesulitan,” kata Abdul Mu’ti.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan peserta terbanyak dalam pelepasan perdana berasal dari Jawa Timur.

“Untuk periode ini kebanyakan dari Provinsi Jawa Timur. Namun karena program ini berskala nasional, peserta juga berasal dari provinsi lainnya,” ujarnya.

Tatang menjelaskan program pengiriman lulusan SMK dan lembaga kursus ke luar negeri bakal dilakukan bertahap setiap beberapa bulan.

Ia menyebut kebutuhan tenaga kerja di tiap negara berbeda-beda. Jepang dan Korea Selatan banyak membutuhkan tenaga caregiver, pertanian, dan manufaktur. Sementara Turki lebih fokus pada sektor hospitality.

“Setiap negara punya kebutuhan dan keunikan masing-masing. Di Turki, misalnya, mereka sangat percaya dengan tenaga kerja dari Indonesia,” katanya.

Untuk program SMK 3+1, Tatang menjelaskan sekolah yang ikut program dipilih lewat proses pengajuan dan asesmen dari Direktorat SMK.

“Sekolah mengajukan usulan ke kementerian, kemudian dilakukan asesmen. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, ditetapkan melalui surat keputusan menteri dan mendapat dukungan dari kementerian,” ujarnya.

Saat ini, ada sekitar 115 SMK di Jawa Timur yang sudah ikut program SMK 3+1 dan pelaksanaannya dilakukan secara nasional.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka