Houston (KABARIN) - Amerika Serikat (AS) dilaporkan menunda rencana penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp248 triliun kepada Taiwan. Penundaan ini terjadi seiring masih berlanjutnya konflik dengan Iran dan dinamika hubungan dengan China.
Presiden AS Donald Trump menyebut keputusan terkait penjualan senjata itu akan digunakan sebagai bagian dari strategi diplomasi terhadap China.
“Saya belum menyetujuinya. Kita lihat nanti apa yang terjadi. Saya mungkin akan melakukannya (menjual senjata ke Taiwan). Saya mungkin juga tidak akan melakukannya,” kata Trump kepada Fox News.
Trump juga mengatakan isu tersebut telah dibahas dengan Presiden China Xi Jinping usai lawatannya ke Beijing, sebelum keputusan final diambil.
Kebijakan ini disebut berkaitan dengan prinsip lama kebijakan luar negeri AS terkait Taiwan yang dikenal sebagai Six Assurances sejak era Presiden Ronald Reagan pada 1982, yang salah satunya menyatakan bahwa AS tidak berkonsultasi dengan China soal penjualan senjata ke Taiwan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao menjelaskan bahwa keputusan penundaan tersebut akan melibatkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Ia menegaskan bahwa stok persenjataan AS masih mencukupi, meski ada kekhawatiran soal penggunaan besar dalam konflik terbaru dengan Iran.
“Saat ini, kami menunda penjualan untuk memastikan kami memiliki amunisi yang dibutuhkan untuk Epic Fury dan kami punya cukup. Kami hanya memastikan semuanya tersedia, tetapi penjualan untuk militer asing akan dilanjutkan ketika pemerintah menganggapnya perlu,” ujar Cao dalam sidang di Senat AS.
Operasi militer yang disebut Epic Fury diketahui menjadi bagian dari keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran, yang disebut telah menguras stok rudal dan sistem pertahanan militer mereka dalam beberapa bulan terakhir.
Laporan juga menyebut penggunaan besar-besaran rudal telah mengurangi cadangan beberapa jenis persenjataan strategis AS, termasuk rudal jelajah dan sistem pertahanan udara.
Di sisi lain, Gedung Putih dikabarkan tengah mempertimbangkan permintaan dana tambahan ke Kongres untuk memperkuat kembali stok senjata yang menipis akibat operasi militer tersebut.
Sumber: ANAD