Jakarta (KABARIN) - Pencerita kuliner Ade Putri Paramadita membagikan rekomendasi menu Idul Adha yang beda dari biasanya, yakni Selat Solo. Menurut dia, hidangan khas Jawa Tengah itu merupakan hasil akulturasi budaya Indonesia dan Belanda yang punya cita rasa unik.
"Selat Solo itu adalah menurut aku akulturasi dari biefstuk-nya mereka alias bistik tapi manis, rasanya Jawa banget,” kata Ade di Jakarta, Minggu.
Saat Idul Adha, olahan daging kurban biasanya identik dengan sate, gulai, atau masakan bersantan lainnya. Namun Ade menilai masyarakat bisa mulai mencoba variasi menu lain yang tidak kalah lezat.
Ia menjelaskan Selat Solo lahir dari perpaduan budaya kuliner Keraton Surakarta dan Belanda pada masa kolonial.
Menu ini menggunakan bahan dasar daging sapi dengan sentuhan rempah khas Jawa, lalu dipadukan dengan kuah kaldu yang lebih ringan dan manis karena penggunaan kecap.
Dalam penyajiannya, Selat Solo biasanya dilengkapi telur bacem, kentang goreng, acar, kacang, hingga taburan bawang.
Ade mengatakan inspirasi hidangan tersebut berasal dari biefstuk atau bistik ala Belanda yang dulunya dikenal sebagai makanan kalangan bangsawan.
Di negara asalnya, bistik biasanya berupa daging panggang yang disajikan bersama kentang tumbuk dan sayuran.
Menurut Ade, menu Idul Adha sebenarnya sangat fleksibel dan tidak harus selalu identik dengan santan atau kuah berat.
Ia menyebut daging kambing juga bisa diolah menjadi menu lain seperti lada hitam atau krengsengan khas Jawa Timur yang dimasak dengan tumisan rempah, kecap manis, dan petis udang.
Bahkan, daging kambing juga bisa dimasak menggunakan bumbu rendang meski belum terlalu populer di masyarakat.
Ade menilai banyak orang masih ragu mencoba olahan baru untuk daging kambing, padahal bahan tersebut cukup fleksibel untuk dikreasikan menjadi berbagai masakan.
Ia pun mengajak masyarakat untuk lebih berani bereksperimen dengan resep baru, termasuk mengambil inspirasi dari masakan luar negeri agar menu Idul Adha terasa lebih variatif dan menarik.
Sumber: ANTARA