India (KABARIN) - Produsen otomotif India, Tata Motors, akan menggunakan platform milik Chery untuk memproduksi kendaraan listrik (EV) mereka secara lokal, dengan rencana menghadirkan setidaknya dua model, yang pertama akan diluncurkan pada 2027.
Laman warta India The Hindu, Rabu (3/6) waktu setempat melaporkan, Tata Motors berencana melisensikan platform otomotif dari Chery untuk mengembalikan proyek kendaraan listrik premium di bawah merek Avinya yang sempat tertunda.
Tata mengatakan akan memanfaatkan platform Freelander yang dikembangkan melalui perusahaan patungan antara Chery dan Jaguar Land Rover (JLR) di China. Kendaraan tersebut akan diproduksi di pabrik baru Tata yang baru dibuka di Tamil Nadu, India bagian selatan.
Meskipun produsen mobil China masih sebagian besar tidak memiliki akses luas ke pasar otomotif India yang merupakan terbesar ketiga di dunia, teknologi mereka diam-diam semakin sulit untuk dihindari karena produsen lokal mengandalkannya agar tetap kompetitif dalam persaingan global kendaraan listrik.
Strategi ini menandai perubahan arah dari rencana awal Tata, produsen mobil listrik terbesar di India, yang ingin menggunakan platform Electrified Modular Architecture (EMA) milik JLR untuk model Avinya yang semula ditargetkan meluncur pada 2025.
Rencana tersebut gagal terwujud tahun lalu setelah JLR membatalkan rencana produksi kendaraan listrik berbasis EMA di India, sehingga Tata harus menyusun ulang strateginya.
Kesepakatan penggunaan platform Chery diharapkan dapat menutupi waktu yang hilang dan memberi Tata akses ke fitur serta teknologi canggih yang jika dikembangkan sendiri akan membutuhkan waktu lebih lama dan investasi yang lebih besar.
Model Avinya pertama yang menggunakan platform Chery dijadwalkan hadir pada 2027 dan akan dikirim dari China dalam bentuk kit untuk kemudian dirakit di India.
Upaya untuk meningkatkan penggunaan komponen lokal juga sudah berlangsung. Salah satu sumber menambahkan bahwa model EV kedua akan diluncurkan pada 2029, dengan peluang menghadirkan dua model tambahan setelahnya.
“Avinya sedang dikembangkan sebagai merek premium global. Kolaborasi kami dengan JLR dan para mitranya akan menjadi salah satu pilar penting dalam perjalanan global kami di segmen kendaraan listrik premium,” kata Tata.
Perusahaan juga menambahkan bahwa kesepakatan ini akan memungkinkan mereka menghadirkan produk yang diinginkan untuk segmen EV mewah dalam skala besar.
Sementara itu, Chery mengatakan bahwa kerja sama dengan Tata merupakan kelanjutan dari keberhasilan kolaborasinya dengan JLR.
“Chery akan bertindak sebagai pemasok bagi Tata Motors Passenger Vehicles. Setiap proyek berjalan berdasarkan perjanjian yang terpisah dengan ketentuan komersial yang standar,” kata produsen mobil China tersebut.
JLR sendiri telah menunjuk Chery, mitra lamanya, untuk mengembangkan dan memproduksi kendaraan elektrifikasi, termasuk kendaraan listrik murni dan hybrid, di bawah merek Freelander yang dihidupkan kembali. Kendaraan-kendaraan tersebut akan menggunakan arsitektur milik Chery dan diproduksi di pabrik perusahaan tersebut di Changshu.
Salah satu sumber menyebut kesepakatan dengan Chery sebagai “solusi sementara” karena tanpa produk baru, Tata berisiko kehilangan posisinya sebagai pemimpin pasar kendaraan listrik.
Ia menambahkan bahwa perusahaan tetap berencana mengembangkan platform khusus miliknya sendiri dalam jangka panjang.
Model kendaraan listrik saat ini menyumbang 14 persen dari total penjualan Tata. Perusahaan menargetkan angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 30 persen pada 2030.
Namun, pesaing seperti Mahindra & Mahindra dan JSW MG Motor semakin mendekati posisi Tata, yang menunjukkan adanya celah dalam jajaran produk EV perusahaan dan meningkatkan risiko kehilangan pangsa pasar lebih lanjut.
Pembicaraan mengenai kesepakatan ini mencerminkan perubahan yang lebih luas di industri otomotif India. Produsen mobil India semakin banyak mengimpor teknologi kendaraan listrik dari China, namun menghindari kemitraan kepemilikan saham yang lebih dalam karena sensitivitas politik.
Sejak 2020, pemerintah India memberlakukan pembatasan ketat terhadap investasi dari negara-negara tetangga, terutama ditujukan kepada China. Kebijakan tersebut secara efektif menghentikan partisipasi berskala besar perusahaan China di industri otomotif India.
Sumber: The Hindu