Jakarta (KABARIN) - Netflix menyoroti berbagai tayangan kuliner semakin memengaruhi cara penonton mengenal makanan dan hidangan baru, mengeksplorasi budaya yang berbeda, hingga memilih destinasi wisata yang ingin mereka kunjungi.
Netflix’s Senior Director of Content, Southeast Asia, Malobika Banerji mengatakan bahwa tayangan kuliner menawarkan perpaduan menarik antara hiburan, koneksi emosional, dan eksplorasi budaya, sehingga tidak mengherankan jika genre ini terus menarik perhatian semakin banyak penonton.
“Cerita yang baik selalu mampu membangkitkan rasa ingin tahu, dan saat ini penonton mencari tayangan yang dapat melibatkan seluruh indra mereka. Ketertarikan terhadap apa yang terjadi di balik sebuah hidangan pun semakin besar," ujar Malobika Banerji, dalam keterangan pers yang diterima, Kamis
"Di situlah kekuatan cerita kuliner berada, di mana setiap hidangan menyimpan kisah tentang tradisi, komunitas, dan pengalaman di dapur,” tambah dia.
Tayangan kuliner kini tidak hanya membuat penonton ingin mencicipi hidangan yang ditampilkan. Dari drama dan dokumenter hingga kompetisi memasak, seperti Culinary Class Wars dan Street Food Asia, hingga serial lokal terbaru Netflix Luka Makan Cinta, makanan kini tidak hanya hadir sebagai elemen visual.
Makanan telah menjadi medium bercerita yang merepresentasikan identitas budaya, memperkuat karakter, dan membangun koneksi emosional dengan penonton.
Cerita yang ditampilkan di layar, termasuk cerita yang berpusat pada makanan kerap menjadi pintu bagi penonton untuk mengenal lebih jauh kuliner, budaya, dan gaya hidup suatu negara.
Seperti halnya tayangan acara kompetisi memasak “Culinary Class Wars” disebut turut menghidupkan kembali dunia kuliner Korea di setiap seasonnya, mendorong peningkatan jumlah booking restoran, dan memberikan perhatian baru bagi para chef yang terlibat.
Menurut platform reservasi restoran Korea, Catchtable, restoran milik para chef peserta mencatat peningkatan booking rata-rata sebesar 148 persen selama musim pertama ditayangkan.
Momentum ini terus berlanjut, dengan rata-rata pemesanan dan waiting list per restoran yang berpartisipasi meningkat sekitar 303 persen dalam lima minggu setelah penayangan perdana Musim 2 dibandingkan dengan lima minggu sebelumnya.
Culinary Class Wars Season 1 mencatat sejarah sebagai serial tanpa naskah (unscripted) Korea pertama yang memuncaki daftar Global Top 10 Netflix Non-English selama tiga minggu berturut-turut.
Kompetisi memasak ini juga mendapat sambutan luar biasa di Indonesia dengan menduduki peringkat #1 di Netflix dan bertahan di jajaran Top 10 selama delapan minggu berturut-turut.
Selain itu, dengan kekayaan cita rasa tradisional, keragaman budaya kuliner, hingga perkembangan gastronomi modern yang terus tumbuh, Indonesia memiliki seluruh unsur yang dibutuhkan untuk menghadirkan cerita kuliner yang menarik.
Serial dokumenter “Netflix Street Food: Asia” yang dirilis pada 2019 mengeksplorasi budaya makanan kaki lima di berbagai negara Asia dan memperkenalkan sejumlah destinasi kuliner lokal kepada penonton global.
Di Indonesia, dalam serial dokumenter tersebut episode Yogyakarta menampilkan berbagai hidangan ikonis serta sosok-sosok di balik kuliner legendaris seperti Lupis Mbah Satinem, Gudeg Mbah Lindu, dan Mie Lethek Cap Garuda.
Tayangan tersebut memicu rasa penasaran penonton untuk merasakan langsung suasana, budaya, dan kuliner yang mereka lihat di layar. Episode tersebut juga membantu meningkatkan perhatian media dan wisatawan terhadap kuliner tradisional Indonesia, sekaligus semakin memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner.
Cerita kuliner juga semakin banyak diangkat dalam cerita-cerita Indonesia. Terbaru, serial “Luka, Makan, Cinta” (2026) menghadirkan perpaduan pencarian jati diri, romansa, dan dinamika dunia kuliner Indonesia dengan Bali sebagai latar utamanya.
Melalui sajian seperti lontong balap, lobster sambal matah, hingga pisang ijo yang dikemas dalam pengalaman fine dining yang artistik, serial “Luka Makan Cinta” memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia kepada penonton.
Serial tersebut juga menyoroti realitas dunia dapur profesional, mulai dari tekanan kerja yang tinggi hingga disiplin yang diperlukan untuk berhasil di industri tersebut.
“Luka, Makan, Cinta” masuk ke daftar Global Top 10 Netflix untuk serial Non-English dengan sekitar 2,4 juta penayangan dan berhasil masuk Top 10 di 30 negara. Di Indonesia, serial ini juga bertahan di jajaran Top 10 Netflix selama lima minggu berturut-turut.
Selain itu, film kuliner populer “Aruna & Lidahnya dan Rahasia Rasa”, yang juga tersedia di Netflix, memperlihatkan bagaimana makanan dapat menjadi medium untuk mengeksplorasi tema identitas, budaya, dan hubungan antar manusia.
Pemenang “MasterChef Indonesia Season 8”, pengusaha kuliner dan kreator konten, Chef Jesselyn Lauwreen menyampaikan bahwa tayangan kuliner saat ini telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih personal dan emosional.
Menurut dia, tayangan kuliner turut mengubah cara orang menikmati dunia makanan. Kini banyak orang bisa mengenal dan jatuh cinta pada sebuah cuisine, restoran, atau chef bahkan sebelum mencobanya langsung, sekaligus mendorong semakin banyak generasi muda untuk mengeksplorasi dunia kuliner.
“Tentang cerita, passion, dan perjuangan di baliknya yang membuat penonton merasa lebih terhubung dengan sebuah hidangan dan chef di baliknya, sekaligus membantu mereka menghargai proses yang terjadi di balik setiap sajian, mulai dari tekanan di dapur, kerja sama tim, menjaga konsistensi, hingga kerja keras yang sering kali tidak terlihat oleh pelanggan,” ujar Chef Jesselyn, yang juga menikmati tayangan di Netflix seperti “Culinary Class Wars” dan “Street Food Asia”.
Sumber: ANTARA