Pelaku pasar merespons positif laporan kinerja APBN walaupun masih defisit
Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Jumat dengan penguatan 13 poin atau 0,07 persen menjadi Rp18.036 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.049 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan penguatan mata uang Garuda didorong respons positif pelaku pasar terhadap laporan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dinilai menunjukkan perbaikan.
"Pelaku pasar merespons positif laporan kinerja APBN walaupun masih defisit. Namun, kenaikan pajak tumbuh signifikan yang berarti ketergantungan pada utang mulai turun," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Data hingga 31 Mei 2026 menunjukkan penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp683,3 triliun. Pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh komponen penerimaan pajak.
Penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan dan deposit PPh badan tercatat sebesar Rp167,6 triliun atau naik 23,9 persen. Sementara itu, penerimaan PPh orang pribadi dan PPh Pasal 21 mencapai Rp123,1 triliun atau tumbuh 26 persen.
Adapun penerimaan dari PPh final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 terkumpul Rp138,7 triliun atau meningkat 5,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan pertumbuhan signifikan pada penerimaan pajak badan dan orang pribadi mencerminkan peningkatan pendapatan para wajib pajak.
Selain itu, penerimaan dari pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) juga menunjukkan kinerja kuat dengan realisasi Rp315,7 triliun atau tumbuh 41,3 persen secara tahunan.
Menurut Rully, faktor lain yang turut menopang penguatan rupiah adalah ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia guna menjaga stabilitas nilai tukar.
"Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh BI membuat spread bunga dengan The Fed rate semakin melebar dan rupiah menjadi menarik lagi," kata Rully.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia tercatat berada di level Rp18.039 per dolar AS, tidak berubah dibandingkan posisi sehari sebelumnya.
Sumber: ANTARA