Jakarta (KABARIN) - Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir mencerminkan kondisi pasar yang sedang mengalami penyesuaian valuasi sekaligus menurunnya selera investor terhadap aset berisiko.
Menurut Elandry, kondisi tersebut terlihat dari tren penurunan IHSG yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut pada 3–5 Juni 2026.
"Pelemahan yang terjadi beberapa hari terakhir menunjukkan pasar sedang berada dalam fase penyesuaian valuasi dan penurunan risk appetite," ujar Elandry saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan investor asing masih bersikap hati-hati terhadap pasar saham Indonesia. Sikap tersebut tercermin dari berlanjutnya arus modal keluar (capital outflow) serta meningkatnya minat terhadap instrumen investasi yang dinilai lebih aman.
"Bukan berarti kepercayaan terhadap fundamental Indonesia hilang, namun, pasar saat ini membutuhkan katalis positif yang lebih kuat untuk mengembalikan risk appetite dan menarik kembali capital inflow (arus dana masuk)," ujar Elandry.
Dalam jangka pendek, Elandry memperkirakan pergerakan IHSG masih akan diwarnai volatilitas karena sentimen pasar masih didominasi faktor psikologis dan pergerakan dana investor, terutama dari luar negeri. Ia menilai peluang pemulihan masih terbatas selama tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan arus dana keluar belum mereda.
Meski demikian, peluang rebound teknikal tetap terbuka apabila kondisi rupiah mulai stabil dan kekhawatiran pasar berangsur mereda.
"IHSG berpeluang mengalami technical rebound setelah koreksi yang cukup dalam," ujar Elandry.
Lebih lanjut, ia mengatakan tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi sejumlah faktor domestik, seperti pelemahan rupiah, berlanjutnya aksi jual investor asing, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan ke depan.
"Kondisi tersebut membuat sentimen pasar cenderung negatif dan mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko," ujar Elandry.
Menurut dia, nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tren pelemahan turut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas sektor keuangan nasional.
"Ditambah munculnya berbagai kekhawatiran terkait pertumbuhan ekonomi, kondisi fiskal, serta isu-isu politik yang ramai diperbincangkan, investor memilih bersikap lebih defensif," ujar Elandry.
Ia menambahkan tekanan jual semakin meningkat setelah IHSG menembus sejumlah level psikologis penting, termasuk area support di kisaran 6.000 hingga 5.800 poin. Kondisi tersebut memicu aksi jual lanjutan dari investor institusi maupun ritel.
"Di tengah penurunan yang cukup tajam, potensi terjadinya margin call juga turut menambah tekanan jual, sehingga mempercepat pelemahan indeks dalam beberapa hari terakhir," ujar Elandry.
Sebagai catatan, IHSG ditutup melemah 4,11 persen ke level 5.941,07 pada perdagangan 3 Juni 2026. Koreksi berlanjut pada 4 Juni dengan penurunan hingga 3,48 persen pada sesi pertama sebelum ditutup turun 1,70 persen ke posisi 5.839,78. Sementara pada perdagangan 5 Juni, IHSG kembali tertekan dan sempat turun ke level 5.651,70 atau melemah 3,22 persen pada pukul 15.10 WIB.
Sumber: ANTARA